PERSEPSI INDRAWI
(Perspektif dalam Islam)
MAKALAH REVISI
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah :Psikologi Islam
Semester III Tahun 2014
DosenPengampu :Dr.H. Ahmad Choiron,M.Ag
Disusun oleh
:
KELOMPOK 3
1.Ahmad Junidi 1310110053
2. Randi
Julianto 1310110058
3. Edy Rofi’i 1310110064
4. Anas Zakaria 1310110070
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN TARBIYAH/PAI
TAHUN 2014/2015
A. Pendahuluan
Aktivitas manusia tidak dapat lepas dari lingkungannya, baik lingkungan
fisik maupun sosial. Sejak individu
dilahirkan, sejak itu pula ia secara langsung berhubungan dengan sekitarnya dan
sejak itu pula ia mulai menerima stimulus (rangsang) dari luar dirinya. Namun tidak berarti bahwa
stimulus hanya datang dari luar individu tersebut, akan tetapi stimulus juga
dapat berasal dari individu itu sendiri.
Stimulus (rangsang-rangsang) akan diterima oleh indra, kemudian
dikelompokkan, digolong-golongan, diartikan dan dikaitan dengan beberapa
rangsang yang lain. Rangsang-rangsang yang telah diterima dan dikelompokkan
kemudian diinterpretasikan sedemikian rupa menjadi sebuah arti yang subjektif
individual. Proses yang demikian disebut dengan persepsi.
Istilah persepsi biasanya digunakan untuk mengungkapkan tentang pengalaman
terhadap suatu benda ataupun suatu kejadian yang dialami. Persepsi
didefinisikan sebagai proses yang menggabungkan dan mengorganisir data-data
indra kita (pengindraan) untuk dikembangkan sedemikian rupa sehingga kita dapat
menyadari di sekeliling kita, termsuk sadar akan diri kita sendiri. Untuk
memahami apa itu persepsi dan bagaimana proses terjadinya, pada makalah ini
akan dibahas “Persepsi Indrawi (dalam Perspektif Islam)”.
B. Permasalahan
Dari uraian di atas, kami merumuskan permasalahan-permasalahan sebagai
berikut:
1. Bagaimana Persepsi dalam pandangan Islam?
2. Bagaimana peran Islam dalam proses terjadinya persepsi?
3. Mengapa persepsi dapat berubah-ubah?
C. Pembahasan
1. Persepsi Indrawi dalam PandanganIslam
Islam dalam melihat konsep ilmu berbedadengan
para pemikirbarat. Tidakseperti para pemikirbarat yang
menjadikanduniasebagaisumberilmu, tetapi dalam islam, ilmu adalahbersumberdari
Allah. Dikarenakanilmubersumberdari Allah, maka persepsiindrawimerupakansalahsatu
channel yang menyalurkanilmutersebutdari-Nya.
Persepsi adalah fungsi psikis yang penting yang menjadi jendela pemahaman
bagi peristiwa dan realitas kehidupan yang dihadapi manusia. Manusia sebagai
makhluk yang diberikan amanah kekhalifahan diberikan berbagai keistimewaan yang
salah satunya adalah proses dan fungsi persepsi yang lebih rumit dan lebih
kompleks dibandingkan dengan makhluk Allah lainnya. Dalam bahasa al-Qur’an
beberapa proses dan fungsi persepsi dimulai dari proses penciptaanmanusia.[1]Firman
Allah surat al-Insan ayat 2:
إِنَّا
خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ
سَمِيعًا بَصِيرًا
Artinya; Sesungguhnya kami telah
menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur (nuthfah amsyaj) yang kami
hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan) karena itu kami jadikan dia
mendengar dan melihat.
Ayat di atas menyebutkan tentang proses penciptaan manusia dilengkapi
dengan penciptaan fungsi pendengaran dan penglihatan. Dalam ayat tersebut tidak
disebutkan telinga dan mata, tetapi sebuah fungsi. Kedua fungsi ini merupakan
fungsi vital bagi manusia dan disebutkan selalu dalam keadaan berpasangan.
Selain itu, persepsiindrawi jugamemilikitujuan
yang jelas,sebagaimanafirman
Allah(Q.S. an-Nahl ;78):
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ
أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ
وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya :Dan Allah
mengeluarkankamudariperutibumudalamKeadaantidakmengetahuisesuatupun,
danDiamemberikamupendengaran, penglihatandanhati, agar kamubersyukur.
Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya yang
seindah-indahnyasertadilengkapidenganberbagai
organ psikofisik yang istimewasepertipancaindradanhati,agar
manusiaberyukurkepadaTuhan yang telahmenganugrahkankeistimewaan-keistimewaanitu.[2]
Persepsi bagi seorang
muslim bukanlah hanya sekedar proses atau konsep dimana panca indra hanya
sekedar mencerna fenomena dunia yang fana, tapi justru untuk menyingkap hakikat
didalam setiap peristiwa. Persepsi bagi seorang muslim bukan hanya sekedar
tentang ketajaman indra yang bersifat fisikal yang rentan terhadap gangguan
ilusi, tapi ketajaman indra yang dituntun oleh kepekaan jiwa yang rindu akan
Rabbnya.
2. Peran Islam dalam Proses Terjadinya Persepsi
Proses terjadinya persepsi bergantung pada sistem sensori dan otak. Sistem
sensori akan mendeteksi informasi dari stimulus yang didapat dari objek,
mengubahnya menjadi impuls saraf, mengolah beberapa di antaranya dan
mengirimkannya ke otak melalui benang-benang saraf. Otak memainkan peranan yang
luar biasa dalam mengelola data sensorik.Kemudianterjadilah proses di otak sebagai pusat
kesadaran sehingga individu menyadari apa yang dilihat, atau apa yang didengar,
atau apa yang diraba. Proses yang terjadi dalam otak atau dalam pusat kesadaran
inilah yang disebut sebagai proses psikologis. Karena itu, dikatakan bahwa
persepsi tergantung pada empat cara kerja: deteksi, (pengenalan), transaksi
(pengubahan diri suatu energi ke bentuk energi yang lain), transmisi (penerusan),
pengolahan informasi.
Dalam pengelolaan informasi islam mempunyai peran yang sangat penting. Sebagai
orang muslim tentunya kita harus menta’ati peraturan dan ajaran islam. Begitu
juga dalam mempersepsikan suatu hal, kita tidak boleh melenceng dari
kaedah-kaedah islam. Dari uraian tersebut, maka islam berperan sebagai sistem
kontrol persepsi agar sesuai dengan konsep islam.
Tubuh kita sejak dilahirkan sudah dilengkapi dengan peralatan yang
dirancang dengan sangat khusus untuk mengumpulkan informasi. Sistem inilah yang
disebut dengan indra atau sistem sensori. Dengan perlengkapan itu kita dapat
menangkap informasi sehingga kita bisa membuat rencana dan mengendalikan
perilaku serta gerakan tubuh.[3]Manusia
secara garis besar memiliki lima alat indra. Alat-alatIndraadalahbagian-bagiantubuh
yang berfungsiuntukmenerimarangsangansesuaidenganmodalitasmasing-masing.
1) Penglihatan
Alatindrauntukpenglihatan adalahmata.Dalamalatiniterdapatsarafreseptorrangsang
yang disebutconus (berbenrtukkrucut) danbacillus
(berbentukbatang).Keduasarafiniterletakdalam
retina. Objek yang ditangkap dalam indra penglihatan adalah visual.
2) Pendengaran
Alatindrauntukpendengaranadalahtelingadengansegalaperlengkapandidalamnya,terutamagendangtelinga
(membrane timpani)dengansaraf-sarafreseptorgetaran
di telingabagiandalam(cochlea).Rangsangan yang
sesuaiindrainiadalahgetaran-getaranudara,perubahan-perubahandalamtekananudara.Indra pendengaran adalah indra pertama yang
menunjukkan fungsi. Begitu lahir, pada sang bayi diperintahkan untuk
membunyikan kalimat adzan dan iqomat yang berfungsi untuk meneguhkan persepsi
dan persaksiannya terhadap Allah.[4]
3) Penciuman
Alatindrauntukpenciumanadalahhidung dansaraf-sarafreseptornya.Rangsang
yang sesuaiindrainiadalahzat-zatkimiawi yang berbentuk gas.
4) Pengecap
Alat indra untuk pengecap adalah lidah dengan saraf-saraf
reseptor pada papila-papila rasa di atas dan di sekeliling lidah. Rangsang yang
sesuai dengan indra ini adalah cairan kimiawi.
5) Peraba
Alat indra peraba tidak terbatas pada permukaan kulit
dengan reseptor-reseptornya, tetapi juga menyangkut alat-alat yang peka
terhadap orientasi dan keseimbangan. Oleh karan itu, rangsang yang sesuai untuk
indra ini juga bermacam-macam yaitu tekanan, suhu, rasa sakit, dan gerakan.
Berapa pengarang bahkan membedakan antara indra kulit, persentuhan, kinestesis,
dan lain-lain. Kulitberfungsimemberikaninformasitentangkualitaslingkunganolehkarenaitu,kulitmempunyaibebagaireseptor
yang terdapatpadatitik-titikpermukaankulit,yaitutitiktekanan,nyeri,panas, dan dingin.[5]
3. Perubahan Persepsi
Salah satu hal yang kita ketahui tentang persepsi kita adalah bahwa
persepsi itu berubah. Persepsi bukanlah sesuatu yang statis. Mengapa dan
bagaimana persepsi itu bisa berubah perlu diketahui agar kita bisa meramalkan dan
jika perlu memengaruhi persepsi.
Proses perubahan pertama faal (psikologis) dari sistem saraf pada
indra-indra manusia. Jika suatu stimulus tidak mengalami perubahan, misalnya,
maka akan terjadi adaptasi dan habituasi, yaitu respons terhadap stimulus itu
makin lama makin lemah. Habituasi menunjukkan kecenderungan faal dari reseptor
yang menjadi kurang peka setelah banyakmenerima stimulus. Di pihak lain,
stimulus adalah berkurangnya perhatian jika stimulus muncul berkali-kali.
Stimulus yang muncul secara teratur lebih mudah diadaptasi daripada stimulus
yang munculnya tidak teratur.
Proses perubahan kedua adalah proses psikologis. Proses perubahan persepsi
secara psikologi antara lain dijumpai dalam pembentukan dan perubahan
sikap.Pembentukan dan perubahan sikap itu dalam psikologi biasanya diterangkan
sebagai proses belajar atau sebagai proses kesadaran (kognisi). Dalam proses
belajar yang menjadi fokus adalah adanya rangsang dari luar (stimulus),
sedangkan dalam proses kognisi yang utama adalah adanya dorongan atau kehendak
dari dalam individu sendiri.[6]
Persepsi juga dapat berubah apabila seseorang lebih banyak mengetahui tentang
sesuatu. Persepsi itu berubah seiring dengan pengalaman yang telah didapatkan.[7]
D. Analisa
Mempersepsikan
sesuatu tidaklah mudah. Misalnya jika kita ingin mempersepsi orang lain, maka
kita akan menghadapi kenyataan bahwa kita hanya dapat melihat dhohir-nya
(tampilan luar) saja, sedangkan sisi batiniyah-nya sulit untuk
diketahui. Olehkarenaitumempersepsi
orang jauhlebihsulitdaripadamempersepsiobjek (benda). Sebagai contoh
bila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita dihadapkan pada
fenomena di mana seseorang sengaja membuka kesempatan agar dipersepsi oleh
orang lain, misalnya perempuan berusia 60 tahun ke atas menyemir rambutnya dan
memasang benang di pipi untuk mengencangkan pipi yang sudah kendor maka
persepsi akan tergiring dengan simpulan bahwa perempuan itu terlihat lebih muda
(berumur kurang dari 60 tahun).
Ketikamelakukanpersepsiterhadap
orang lain, yang kitaperlukanadalahkecermatan. Agar tercapainyaresensipersepsi yang sempurna stimulus yang
didapatharuslah diprosesmelaluiakaldanhati.Kalaupersepsikitabenar,
makahalinimenjadi modal yang pentinguntukkeberhasilankomunikasi interpersonal.
Dalam sisi lain,
persepsi inderawi pun juga harus digunakan seoptimal mungkin sejak kecil, sebagai
contoh yaitu dalamfungsi pendengaran, bila
dioptimalkan akan dapat mengembangkan potensi-potensi intelektual, emosi dan
spiritual anak. Orang tua yang banyak memperdengarkan suara-suara tertentu akan
mencondongkan anaknya untuk menyukai dan mengkonsumsi substansi dari suara
tersebut. Begitu juga dalam pengoptimalan fungsi penglihatan. Ahli psikologi Sydis
menunjukkan kepada kita bahwa kalau anak menerima stimulasi yang kaya melalui
penglihatannya, maka kecerdasannya akan bertumbuh kembang secara pesat. Maka,
anaknya William Sydis yang baru bisa melihat diberinya stimulasi yang beragam:
mainan yang ada diatas kepalanya selalu diganti, ditembok dipasang berbagai
macam rasa fisik: kain kasar seperti paku hingga lembut layaknya sutra. William
James Sydis ternyata tumbuh luar biasa. Di usia muda ia sudah menjadi doktor
dan menulis buku standar. Ini menunjukanbahwa fungsi indra akan optimal bila diberikan banyak stimulan.[8]
E. Kesimpulan
1. Persepsi bagi seorang muslim bukanlah sekedar proses atau konsep dimana
panca indra hanya sekedar mencerna fenomena dunia yang fana, tapi justru untuk
menyingkap hakikat didalam setiap peristiwa. Persepsi bagi seorang muslim bukan
hanya sekedar tentang ketajaman indra yang bersifat fisikal yang rentan
terhadap gangguan ilusi, tapi ketajaman indra yang dituntun oleh kepekaan jiwa
yang rindu akan Rabbnya.
2. Peran Islam dalam persepsi adalah sebagai
sistem kontrol persepsi agar mengarah pada nilai posititif dan sesuai dengan
konsep islam.
3.
Perubahan pada persepsi dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama,
faal (psikologis) dari sistem saraf pada indra-indra manusia. Kedua,
proses psikologis yaitu dalam pembentukan dan perubahan sikap sebagai proses
belajar atau proses kesadaran (kognisi).
F. Penutup
Demikianlah makalah yang dapat kami susun.Kami sadar bahwa dalam
penyusunanya masih sangat jauh dari kata sempurna.Oleh karena itu kritik dan
saran yang membangun sangatlah kami harapkan.Semoga makalah ini dapat
brermanfa’at bagi pemakalah pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Rahman Shaleh,PsikologiSuatuPengantardalamPersepektif
Islam,KencanaPrenada Group,Jakarta;2004
David Matsumoto,PengantarPsikologiLintasBudaya,PustakaBelajar,Yogyakarta;2004
Departemen Agama, Al-Qur’an danTerjemahnya, CV
PenerbitDiponegoro, Bandung; 2009
FuadNashori,Potensi-PotensiManusia,PustakaBelajar,Yogyakarta;2005
Hanna DjumhanaBastaman.IntegasiPsikologidalam Islam.YayasanInsanKamil.Yogyakarta;2011

Tidak ada komentar:
Posting Komentar