PENDIDIK
DAN PESERTA DIDIK SERTA HUBUNGAN KEDUANYA DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM
MAKALAH
Disusun
guna memenuhi tugas
Mata
Kuliah: Ilmu Pendidikan Islam
Dosen
Pengampu: Puspo Nugroho, M.Pd.I
Disusun
oleh:
1.
Wahyu
Hikmawati (1310110052)
2.
Amanah
Fitria (1310110053)
3.
Azimmatul
Khoiriah (1310110053)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
TARBIYAH/PAI
2015
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Proses
pendidikan mempunyai beberapa komponen yang mempengaruhi pendidikan itu
sendiri, di antaranya yaitu pendidik dan peserta didik. Berhasil atau gagalnya
pendidikan juga ditentukan oleh kedua komponen tersebut. Mulai dari kemapanan
ilmu pengetahuan, sikap, dan kemauan serta kemampuan pendidik dalam menguasai
objek pendidikan. Untuk keberhasilan suatu pendidikan, diperlukan berbagai
syarat yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik, motivasi belajar peserta
didik, kepribadian anak didik dan tentu saja pengetahuan awal yang dikuasai
oleh peserta didik. Agar hasil yang direncanakan tercapai semaksimal mungkin.
Disinilah pentingnya pengetahuan tentang subjek pendidikan.
Karena
pentingnya pengetahuan tentang subjek pendidikan (pendidik dan peserta didik)
dalam keberhasilan pendidikan, dalam makalah ini akan dibahas mengenai hakikat pendidik
dan peserta didik dalam perspektif Islam serta hubungan keduanya.
B.
Rumusan
masalah
1.
Bagaimana
hakikat pendidik dan peserta didik dalam perspektif pendidikan Islam?
2.
Bagaiman
hubungan pendidik dan peserta didik dalam perspektif pendidikan Islam?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Hakikat
Pendidik
1.
Makna
dan Kedudukan Pendidik
Salah
satu unsur penting dalam proses pendidikan adalah pendidik. Secara umum, pendidik adalah orang yang
memiliki tanggungjawab untuk mendidik. Sementara secara khusus, pendidik dalam
perspektif pendidikan Islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab atas
perkembangan peserta didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi
peserta didik, baik potensi afektif, kognitif, maupun psikomotorik sesuai
dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Pendidik
dalam konteks ini bukan hanya terbatas pada orang-orang yang bertugas di
sekolah, tetapi semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan anak mulai
sejak dalam kandungan hingga ia dewasa, bahkan sampai menunggal dunia.[1]
Dalam
ajaran Islam, pendidik (Guru) mendapatkan penghargaan yang tinggi. Begitu
tingginya penghargaan itu sehingga menempatkan kedudukan guru setingkat di
bawah kedudukan Nabi dan Rasul. Hal ini dikarenakan guru selalu terkait dengan
ilmu (pengetahuan); sedangkan Islam ssangat menghargai pengetahuan. Penghargaan
Islam terhadap ilmu tergambar dalam hadits yang artinya sebagai berikut:
a. Tinta ulama lebih berharga daripada darah syuhada.
b. Orang berpengetahuan melebihi orang yang senang beribadat, yang
berpuasa dan menghabiskan waktu malamnya untuk mengerjakan shalat bahkan melebihi
kebaikan orang yang berperang di jalan Allah.
c. Apabila meninggal seorang alim, maka terjadilah kekosongan dalam
Islam yang tidak dapat diisi kecuali oleh seorang alim yang lain.
Tingginya
kedudukan guru dalam Islam merupakan realisasi ajaran Islam. Islam memuliakan
pengetahuan; pengetahuan itu didapat dari belajar dan mengajar; yang belajar
adalah calon guru, yang mengajar adalah guru. Maka tidak boleh tidak, Islam
memuliakan guru. Tak terbayangkan adanya belajar dan mengajar tanpa adanya
guru.
Kedudukan
guru yang demikian tinggi dalam Islam kelihatannya memang berbeda dari
kedudukan guru di dunia Barat. Perbedaan ini tidaklah mengherankan, karena di
Barat guru tidak lebih dari sekadar orang yang pengetahuannya lebih banyak dari
murid. Hubungan guru-murid adalah hubungan kepentingan antara pemberi dan
penerima jasa, karena itu hubungan juga diikat oleh pembayaran yang dilakukan
berdasarkan perhitungan ekonomi.[2]
2.
Tugas
Pendidik dalam Islam
Mengenai
tugas pendidik, ahli pendidikan Islam dan ahli pendidikan Barat telah sepakat
bahwa tugas pendidik adalah mendidik. Mendidik dapat dilakukan dengan mengajar,
memberi dorongan, memuji, menghukum, memberi contoh, memberi contoh,
membiasakan, dan lain-lain. Dalam pendidikan di sekolah, tugas pendidik adalah
mendidik dengan cara mengajar. Tugas pendidik dalam rumah tangga berupa
membiasakan, memberi contoh yang baik, memberi pujian, dorongan, dan lain-lain
yang diperkirakan menghasilkan pengaruh positif begi pendewasaan anak.
Dalam
literatur Barat diuraikan tugas-tugas guru tidak hanya mengajar. Ag.Soejono
(1982:62) merinci tugas pendidik sebagai berikut:
a.
Wajib
menemukan pembawaan yang ada pada peserta didik.
b.
Berusaha
menolong peserta didik mengembangkan pembawaan yang baik dan menekan
perkembanganpembawaan yang buruk agar tidak berkembang.
c.
Memperlihatkan
kepada peserta didik tugas orang dewasa dengan cara memperkenalkan berbagai
bidang keahlian, keterampilan, agar anak didik memilihnya dengan tepat.
d.
Mengadakan
evaluasi setiap waktu untuk mengetahui apakah perkembangan peserta didik
berjalan dengan baik.
e.
Memberikan
bimbingan dan penyuluhan tatkala peserta didik menemui kesulitan dalam
mengembangkan potensinya.
Sedangkan dalam
literatur yang ditulis oleh ahli pendidikan Islam, tugas pendidik ternyata
bercampur dengan syarat dan sifat pendidik. Ada beberapa pernyataan tentang
tugas guru, yaitu:
a.
Pendidik
harus mengetahui karakteristik peserta didik.
b.
Pendidik
harus selalu berusaha meningkatkan keahliannya, baik dalam bidang yang
diajarkan maupun dalam cara mengajarkannya.
c.
Pendidik
harus mengamalkan ilmunya, jangan berbuat berlawanan dengan ilmu yang
diajarkannya.
Tugas-tugas
pendidik yang diajarkan oleh penulis Muslim ini dapat ditambahkan tugas-tugas
pendidik yang dianjurkan oleh Soejono. Dalam tugas-tugas ini pun tidak disebut
secara tegas tugas pendidik sebagai pengajar biang studi. Memang adakesulitan
untuk mengetahui apa sebenarnya tugas seorang pendidik dalam pandangan penulis
Muslim karena mereka mencampurkan tugas, syarat, dan sifat pendidik. Untuk
sementara dapat dipegang bahwa tugas pendidik adalah yang telah disebutkan
sebelumnya. Secara singkat dapat juga disimpulkan bahwa tugas pendidik dalam
Islam adalah mendidik peserta didik dengan cara mengajar dan dengan cara
lainnya, menuju tercapainya perkembangan maksimal sesuai dengan nilai-nilai
Islam.[3]
3.
Syarat
dan Karakteristik Pendidik
Tugas
sebagai pendidik adalah merupakan suatu tugas yang luhur dan berat. Dipundak
para pendidik terletak nasib suatu
bangsa. Maju atau mundurnya suatu negara dimasa mendatang banyak bergantung
pada keberhasilan atau tidaknya barisan barisan para pendidik dan mengemban
misinya. Syarat- syarat pendidik diantaranya sebagai berikut :
a.
Takwa
kepada Allah. Seorang
Pendidik tidak mungkin mendidik anak agar bertaqwa kepada Allah jika ia sendiri tidak bertaqwa kepada-Nya.
b.
Berilmu. Pendidik harus mempunyai ilmu pengetahuan dan keahlian mengajar.
c.
Sehat
jasmani dan rohani. Jasmani
yang tidak sehat akan menghambat pelaksanaan pendidikan. Bahkan dapat
membahayakan anak didik bila mempunyai penyakit menular. Dari segi rohani,
orang gila juga berbahaya bila ia mendidik.
d.
Berkelakuan
baik.Budi pekerti
Guru angat pening dalam mendidik watak murid. Guru harus menjadi suri tauladan
karena peserta didik bersifat suka meniru.
Adapun karakteristik guru adalah pelengkap dari syarat menjadi
seoran guru. Karakteristik / sifat dapat juga dikatakan syarat minimal yang
harus dipenuhi oleh pendidik. Al-abrasyi
menyebutkan bahwa pendidik dalam islam sebaiknya memiliki sifat pendidik sebagai berikut:Zuhud, bersih
tubuhnya, bersih jiwanya tidak riya’, tidak memendam rasa dendam dan iri hati, tidak
menyenangi permusuhan, ikhlas dalam melaksanakan tugas, sesuai perbuatan dengan
perkataan, tidak malu mengakui ketidak
tahuan, bijaksana, tegas dalam perkataan dan perbuatan tetapi tidak
kasar, rendah hati, lemah lembut, pema’af, sabar, berkepribadian,tidak merasa
rendah diri, bersifat kebapakan atau keibuan, mdanengetahui karakter murid.[4]
B.
Hakikat
Peserta Didik
1. Makna Peserta Didik
Peserta
didik dalam pendidikan Islam selalu terkait dengan pandangan Islam tentang
hakikat manusia. Secara substantif, manusia memiliki dua dimensi, lahir (jasmaniah)
dan batin (ruhaniah). Keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa
dipisahkan. Kedua dimensi manusia
tersebut didesain oleh Allah sebaik-baik model dan berpotensi tinggi untuk
dikembangkan. potensi yang dimiliki manusia bersifat educable; dapat dan
harus dididik agar berkembang aktual. Jika semua potensi itu dididik dengan
baik maka akan memungkinkan manusia mencapai tingkat kemampuan yang luar biasa.
Sebaliknya, jika dibiarkan tanpa arah, manusia akan terbelakang.[5]
Dari
hal tersebut, dapat kita ambil kesimpulan bahwa peserta didik merupakan subjek
dan objek pendidikan yang memerlukan bimbingan orang lain (pendidik) untuk
membantu mengarahkan serta mengembangkan potensi yang dimilikinya. Potensi yang
dimilki tidak akan tumbuh dan berkembang secara optimal tanpa bimbingan
pendidik. Karena itu, pendidik perlu pemahaman secara konkrit tentang peserta
didik. Untuk itu, perlu diperjelas beberapa diskripsi tentang hakikat peserta
didik serta implikasinya terhadap pendidikan Islam, yaitu:
a.
Peserta
didik bukan miniatur orang dewasa, akan tetapi memiliki dunianya sendiri. Hal
ini sangat penting untuk dipahami agar perlakuan terhadap mereka dalam proses
pendidikan tidak disamakan engan pendidikan orang dewasa, baik dalam aspek
metode mengajar, materi yang diajarkan,sumber bahan yang digunakan, dan lain
sebagainya.
b.
Peserta
didik adalah manusia yang memiliki diferensiasi priodesasi perkembangan dan
pertumbuhan. Pemahaman ini cukup perlu untuk diketahui agar aktivitas
pendidikan Islam diesuaikan dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan pada
umumnya dilalui oleh peserta didik. Hal ini sangat beralasan, karena kadar
kemampuan peserta didik ditentukan oleh faktor usiadan periode perkembangan
atau pertmbuhan potensi yang dimilikinya.
c.
Peserta
didik adalah manusia yang memiliki kebutuhan, baik yang menyangkut kebutuhan
jasmani maupun rohani yang harusdipenuhi. Diantara kebutuhan berikut adalah
kebutuhan biologis, kasih sayang, rasa aman, harga diri, realisasi diri, dan
sebagainya. Kesemua itu penting dipahami oleh pendidik agar tugasnya dapat
dilakukan dengan baik.
d.
Peserta
didik adalah makhluk Allah yang memiliki perbedaan individual, baik yang
disebabkan oleh faktor pembawaan maupun lingkungan di mana ia berada. Hal ini
perlu dipahami karena menyangkut bagaimana pendekatan yang perlu dilakukan
pendidik dalam menghadapi ragam sikap dan perbedaan tersebut dalam suasana yang
dinamis, tanpa harus mengorbankan kepentingan salah satu pihak atau kelompok.
e.
Peserta didik
merupakan resultan dari dua unsur utama, yaitu jasmani dan rohani. Unsur
jasmani memiliki daya pisik yang menghendaki latihan dan pembiasaan yang
dilakukan melalui proses pendidikan. Sementara unsur rohaniah memiliki dua
daya, yaitu daya akal dan daya rasa. Untuk mempertajam daya akal, maka proses
pendidikan hendaknya diarahkan untuk mengasah daya intelektualitasnya melalui
ilmu-ilmu rasional. Adapun untuk mempertajam daya rasa dapat dilakukan melalui
pendidikan akhlak dan ibadah. Konsep ini bermakna bahwa suatu prosees
pendidikan Islam hendaknya dilakukan dengan memandang peserta didik secara
utuh. Singkatnya, pendidikan Islam tidak hanya tidak hanya mengutamakan
pendidikan salah satu aspek saja, melainkan kedua aspek secara integral dan
harmonis.
f.
Peserta
didik adalah manusia yang memiliki potensi (fitrah) yang dapat
dikembangkan dan berkembang secara dinamis. Disini tugas pendidik adalah
membantu mengembangkan dan mengarahkan perkembangan tersebut sesuai dengan
tujuan pendidikan yang diinginkan, tanpa melepas tugas kemanusiaannya.[6]
2.
Tugas
Peserta Didik
Agar
pelaksanaan proses pendidikan Islam dapat mencapai tujuan yang diinginkan, maka
setiap peserta didik hendaknya senantiasa menyadari tugas dan kewajibannya.
Menurut Asma Hasan Fahmi, di antara tugas dan kewajiban yang perlu dipenuhi
peserta didik adalah:
a.
Peserta
didik harus membersihkan hatinya dari kotoran sebelum ia menuntut ilmu.
b.
Hendaklah
tujuan belajar ditujukan untuk menghiasi ruh dengan sifat keutamaan.
c.
Memiliki
kemampuan yang kuat untuk mencari dan menuntut ilmu i berbagai tempat.
d.
Wajib
menghormati pendidiknya.
e.
Belajar
dengan sungguh-sungguh dan tabah dalam belajar
Al-Abrasyi
menambahkan bahwa tugas peserta didik
adalah:
a.
Membersihkan
sifat buruk sebelum belajar.
b.
Niat
belajar hendaknya ditujukan untuk mengisi jiwa dengan berbagai fadhilah.
c.
Hendaknya
bersedia meninggalkan keluarga dan tanah air untuk mencari ilmu ke tempat yang
jauh sekalipun.
d.
Jangan
suka sering menukar guru, kecuali dengan pertimbangan yang matang.
e.
Wajib
menghormati pendidik
f.
Jangan
melakukan aktivitasi ketika belajar kecuali atas izin dan petunjuk pendidik.
g.
Memaafkan
guru jika ia bersalah, terutama dengan menggunakan lidahnya.
h.
Bersungguh-sungguh
dalam mencari ilmu dan tekun dalam belajar.
i.
Saling
mengasihi antar sesama peserta didik.
j.
Bergaul
dengan baik dengan guru-gurunya.
k.
Peserta
didik hendaknya mengulang setiap pelajaran dan menyusun jadwal belajar dengan
baik guna meningkatkan kedisiplinannya.
l.
Menghargai
ilmu dan bertekad untuk menuntut ilmu sampai akhir hayat.
Semua
hal di atas cukup penting untuk disadari oleh setiap peserta didik, sekaligus
dijadikan sekaligus pegangan dalam menuntut ilmu.[7]
3.
Sifat-sifat
Ideal Peserta Didik
Sifat-sifat dan
kode etik peserta didik merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan dalam
proses belajar mengajar, baik langsung maupun tidak langsung. Al-Ghazali
merumuskan sebelas pokok sifat-sifat yang patut dimiliki peserta didik, yaitu
sebagai berikut:
a.
Belajar
dengan niat ibadah dalam rangka taqarrub kepada Allah SWT.
b.
Mengurangi
kecenderungan pada duniawi dibanding masalah ukhrowi.
c.
Bersifat
rendah hati dengan cara meninggalkan kepentingan pribadi untuk
kepentinganpendidiknya.
d.
Menjaga
pikiran dari pertentangan yang timbul dari berbagai aliran.
e.
Mempelajari
ilmu-ilmu yang terpuji.
f.
Belajar
dengan bertahap dengan mulai pelajaran yang mudah
g.
Belajar
ilmu sampai tuntas untuk kemudian beralih pada ilmu yang lainnya.
h.
Mengenal
nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari.
i.
Memprioritakan
ilmu diniyah sebelum memasuki ilmu duniawi.
j.
Mengenal
nilai-nilai pragmatif bagi suatu ilmu
pengetahuan.
k.
Peserta
didik harus tunduk pada nasihat pendidik.
Selain itu,
peserta didik perlu merenungkan pemikiran Ali bin Abi Tholib daalam
ungkapannya, “Ingatlah, engkau tidak akan bisa memperoleh ilmu keculi dengan
enam syarat, aku akan menjelaskan padamu dengan jelas, yaitu kecerdasan (akal),
motivasi atau kemauan yang keras, sabar, alat (sarana), petunjuk guru, dan
teru-menerus (kontinu) atau tiak cepat bosan dalam mencari ilmu.”[8]
C.
Hubungan
Pendidik dan Peserta Didik
Pada hakikatnya, pendidik dan peserta didik itu bersatu. Mereka
dalam satu jiwa, terpisah dalam raga. Raga mereka boleh terpisah, tetapi mereka
tetap satu sebagai “Dwi Tunggal” yang kokoh bersatu. Posisi merekan boleh
berbeda, tetapi tetap seiring setujuan, bukan seiring tetapi tidak setujuan.
Kesatuan jiwa pendidik dan peserta didik tidak dapat dipisahkan oleh dimensi
ruang dan waktu.[9]
Pendidik dan peserta didik mempunyai hubungan satu sama lain, yaitu sebagai berikut:
1. Pelindung
Orang
dewasa selalu menjaga dan memperhatikan kepada peserta didik. Dengan demikian
peserta didik selalu diberi perlindungan baik jasmaniah maupun rohaniah. Selain
itu juga diberi perlindungan dengan
jalan memberi pelajaran kepada peserta didik untuk dapat mengendalikan diri
atas perbuatan dan ucapan. Pendidik selalu menjaga anak didiknya agar tidak
merugikan dirinya baik secara langsung maupun tidak langsung.
2. Menjadi teladan
Orang
tua atau pendidik secara sengaja atau tidak akan menjadi teladan bagi Si Anak
yang ingin berbuat serupa dengan orang dewasa. Pendidik selalu berbuat
dihadapan anak dan selalu berbuat bersama-sama dengan anak. Maka perlu bagi
pendidik untuk memperhatikan segala gerak-geriknya dalam berbuat dan
percakapannya dengan anak.
3. Pusat mengarahkan pikiran dan perbuatan
Pendidik
acap kali mengikut sertakan peserta didik dengan apa-apa yang dipikirkan, baik
yang menggembirakan ataupun dengan apa yang sedang dipertimbangkan. Jadi,
menjelaskan berbagai hal kepada peserta didik mengenai apa yang dipikirkan.
Anak diajak memahami serta menerima pendirian dari pendidiknya. Peserta didik
diturut sertakan ke dalam kehidupan pendidik dengan memberikan kesempatan
kepada peserta didik untuk bertanggung jawab dan merangsang makin bertanggung
jawab, juga mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kepentingannya sendiri. Di
dalam hal-hal tertentu hendaknya anak dapat diberikan tanggungjawab penuh.
4. Pencipta perasaan bersatu
Peserta
didik seolah-olah telah terbiasa di dalam suasana perasaan bersatu dengan pendidik.
Dari suasana ini anak mendapatkan pengalaman dasar untuk hidup bermasyarakat,
antara lain:
a. Saling percaya mempercayai
b. Rasa setia
c. Saling meminta dan memberi
Untuk
memiliki perasaan-perasaan tersebut, anak dipersiapkan hidupnya di dalam suatu
lingkungan keluarga yang teratur, dapat memberikan pimpinan dalam hidupnya.
Selalu menunjukan kasih sayang, kesetiaan, percaya agar dapat menjadi contoh
dari pada peserta didiknya. Sebagai pendidik harus pandai menciptakan suasana,
sebagai alat pemersatu di dalam keluarga.[10]
BAB
III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Salah
satu unsur penting dalam proses pendidikan adalah pendidik. Secara umum, pendidik adalah orang yang
memiliki tanggungjawab untuk mendidik. Sementara secara khusus, pendidik dalam
perspektif pendidikan Islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab atas
perkembangan peserta didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi
peserta didik, baik potensi afektif, kognitif, maupun psikomotorik sesuai
dengan nilai-nilai ajaran Islam. Sedangkan peserta didik merupakan subjek dan
objek pendidikan yang memerlukan bimbingan orang lain (pendidik) untuk membantu
mengarahkan serta mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Pendidik
dan peserta didik mempunyai tugas masing-masing untuk mencapai tujuan
pendidikan. Selain itu, untuk mencapai tujuan yang diinginkan seorang guru
harus memiliki syarat dan sifat yang telah dibahas pada bab sebelumnya yang
salah satunya adalah bertaqwa pada Allah. Peserta didik juga harus tunduk dan
patuh pada pendidik agar mendapatkan ilmu yang diajarkan oleh pendidik.
Pada
dasarnya, pendidik dan peserta didik merupakan dwi tunggal yang kokoh bersatu.
Keduanya, memiliki hubungan yang erat. Dalam rangka memperkokoh hubungan
keduanya, harus ditanamkan kasih sayang, penghormatan serta kepercayaan anatar
pendidik dan peserta didik.
2.
Kritik
dan Saran
Demikianlah makalah ini yang dapat kami sajikan mengenai “Pendidik
dan Peserta Didik serta Hubungan Keduanya dalam Perspektif Pendidikan Islam”.
Semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca. Makalah ini telah kami buat
semaksimal mungkin, namun kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna,
oleh karena itu kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun sebagai
masukan serta perbaikan pada tulisan-tulisan berikutnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Abd. Aziz, 2009, Filsafat Pendidikan
Islam, Yogyakarta: Teras
Ahmad Falah, 2010, Aspk-Aspek
Pendidikan Islam, Yogyakarta: Idea Pres
Ahmad Tafsir, 2005, Ilmu Pendidikan
dalam Perspektif Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset
Bukhari Umar, 2010, Ilmu Pendidikan
Islam, Jakarta: Amzah
Hasan Basri, 2009, Filsafat Pendidikan
Islam, Bandung: CV Pustaka Setia
Muhammad Roqib, 2009, Ilmu pendidikan
Islam, Yogyakarta:PT Lki Printing Cemerlang
Samsul Nizar, 2002, Filsafat
Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis, dan Prktis, Jakarta:
Ciputat Pres
Zakiah Darajat, 2011, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: PT Bumi
Aksara
[1] Samsur Nizar, Filsafat
Pendidikan Islam Pendekatan Historis Teoritis dan Praktis, Jakarta, Ciputat
Pers: 2002, hal. 41-42
[2] Ahmad Tafsir, Ilmu
Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung, PT Remaja Rosdakarya: 2005,
hal. 76-77
[4] Ahmad Falah,
Apek-Aspek Pendidikan islam, Yogyakarta, Idea Press: 2010, hal 44-50
[5] Moh. Roqib, Ilmu
Pendidikan Islam, Yogyakarta, PT Lki Printing Cemerlang: 2009, hal.
59
[6]Samsul Nizar, op.cit.,
hal.48-50
[8]Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam,
Jakarta, Amzah:2010, hal. 105-106
[9] Hasan Basri, Filsafat
Pendidikan Islam, Bandung, CV Pustaka Setia:2009, hal.58
[10] Abd. Aziz,
Filsafat Pendidikan Islam, Yogyakarta, Sukses Offet:2009, hal. 199-201

Tidak ada komentar:
Posting Komentar