Kontribusi Peradaban
Islam
Pada Dunia
Makalah ini disusun guna memenuhi
tugas
Mata Kuliah : Sejarah Peradaban
Islam
Dosen Pengampu : Muhammad Miftah, M. Pd. I

Disusun oleh kelompok 4 :
Nurul
Ilmi Elvia N. (1310110045)
Djessica
Maharani H (1310110069)
Zakky
Wildani (1310110073)
Riyadhul
Jannah (1310110075)
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus
Fakultas
Tarbiyah PAI
Tahun
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. Pendahuluan
Dunia
Barat saat ini telah mencapai kemajuan yang sangat pesat terutama dalam bidang
ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun pada dasarnya kemajuan yang diciptakan
dunia Barat sekarang ini tidak terlepas dari transformasi dan kontribusi
intelektual Islam pada masa-masa sebelumnya atau pada masa kejayaan islam.
Ketika itu, dunia Barat masih berada pada masa kegelapan akibat doktrin gereja,
sedangkan di belahan timur umat Islam telah membentuk suatu peradaban gemilang
yang banyak menciptakan ilmu-ilmu pengetahuan maupun ilmiah yang berkembang
dengan pesat.
Kemajun
umat islam pada saat itu tidak hanya dirasakan oleh masyarakat muslim saja,
masyarakat nonmuslimpun merasakan kemajuan-kemajuan Islam, termasuk dunia
Barat. Namun seiring dengan berjalannya waktu umat Islam pun mulai mengalami
kemunduran pada abad pertengahan, yang pada akhirnya sentuhan Islam dengan
dunia Barat memunculkan transformasi intelektual dari Islam yang melahirkan
gerakan renaissance, reformasi dan rasionalisme di dunia Barat.
Dengan
demikian, kemajun-kemajuan ilmu pengetahun dunia Barat yang begitu berkembang
seperti sekarang ini tidak terlepas dari kontribusi kemajuan Islam pada saat
kejayaan umat Islam waktu itu.
B. Rumusan
Masalah
- Bagaimana pengaruh peradaban islam di dunia ?
- Bagaimana kontribusi intelektual islam di dunia Barat ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perkembangan
Kebudayaan Islam Andalusia Zaman Amawiyah 2
Di bawah kekuasaan Amawiyah 2, kebudayaan Andalus
dapat dikatakan masih berupa rintisan, terutama dalam bidang kesusastraan,
arsitektur, dan intelektual. Sebagai seorang perintis Abd Rahman al-Dakhil
mengusahakan terjadinya persatuan penduduk seluruh andalusia. Ia mememerintah
dari tahun 756-788 M.
Dalam bidang seni bangun (arsitektur), Abd Rahman
al-Dakhil merintis membangun kota cordova lengkap dengan istana, taman, dan
masjid. Masjid cordova yang dibangun tahun 786 oleh Al-Dakhil mempunyai pola
dasar bentuk masjid bani umayyah Damaskus. Kemudian masjid ini diperbesar oleh Abd Rahman II dan
Al-Hakam II sehingga menjadi masjid yang sangat indah. Pada masa Abd Rahman III
dibangun pula sebuah istana yang disebut Al-Zahra, yang runtuh pada tahun 1013
M karena adanya serbuan dari bangsa Barbar. Istana ini dibangun dari perpaduan
seni bangunan bergaya Byzantium dan islam.
Bidang ilmu keislaman yang berkembang pada saat itu
antara lain yaitu fiqih, hadits, tafsir, ilmu kalam, ilmu sejarah, tata bahasa
arab dan juga filsafat.
Dalam bidang sejarah, sejarawan pertama Andalus
yaitu Ibn Hayyan dan yang terkenal yaitu Ibn Khaldun (1332-1406) dengan
karyanya Muqaddimah. Sementara itu ilmu filsafat berkembang di spanyol dirintis
oleh Ibn Masarroh (883-931) yang berkembang pesat sesudah zaman Amawiyah II.
Dalam bidang kesenian mencapai puncaknya dengan
dibangunnya istana Al-Hamra di Granada yang dimulai tahun 1246 atas perintah
sultan Nasriyyah. Pada masa itu muncul juga ilmu yang menjadi cikal bakal
ilmu-ilmu pengetahuan modern seperti kedokteran, farmasi, botani dan geografi.
Diantara dokter terkemuka di spanyol diantaranya yaitu Ibn Zuhr, Ibn Rusyd,Ibn al-Khotib, dan Ibn
Khotima.
Sementara itu perkembangan islam di Afrika Utara
ditandai dengan berdirinya dinasti-dinasti seperti Dinasti Murabbitun, Dinasti
Muwahhidun, Dinasti Fathimiyah, dan Dinasti Ayyubiyah.[1]
B. Penyebaran
Peradaban Islam di Asia
1)
Peradaban Islam di Turki
Sebelum
Dinasti Utsmani berkuasa, diwilayah Anatoli dan Turki terdapat beberapa
dinasti: Saljuk, Danishmandiyah dan Qarramaniyah. Mereka mempunyai peranan yang
sangat penting dalam perkembangan peradaban Islam. Hal ini tampak,terutama
setelah hancurnya Baghdad (ibu kota Dinasti Abbasiyah) oleh bangsa Mongol.
Mereka (orang-orang Turki) mempertegas kemandirian mereka dalam membangun
kekuasaannya sendiri, seperti yang dilakukan oleh Turki Utsmani. Pengaruh Dinasti
ini menjangkau wilayah yang luas termasuk Eropa Timur, Asia Kecil, Asia Tengah,
Timur Tengah, Mesir dan Afrika Utara. Mengingat di antara dinasti-dinasti
tersebut terdapat dinasti yang paling berperan dan usia pemerintahannya pun cukup
lama yaitu Turki Utsmani.[2]
2)
Hasil Peradaban
Meskipun
Dinasti Utsman berkuasa cukup lama, ia tidak berarti bahwa peradabannya maju
pesat seperti Dinasti Abbasiyah. Hal itu dikarenakan politik ekspansinya yang
tidak diikuti dengan pembinaan wilayah taklukannya, di samping seratus tahun
setelah penaklukan Constatinopel para sultannya lemah-lemah. Namun demikian,
Dinasti Utsmani masih lebih baik pemerintahannya dan tingkat kemakmurannya
dibanding dengan seluruh bagian Eropa yang dikuasai oleh kaum Kristen. Demikian
juga penduduk Kristen di bawah kekuasaan Dinasti Utsmani dapat menikmati hasil
bumi, kemerdekaan pribadi dan hasil usaha lainnya, di banding dengan
teman-teman mereka yang berada di berbagai kerajaan Kristen.
Kelihatannya,
sultan-sultan Dinasti Utsmani keras, tetapi mereka bersikap liberal dan pemurah
terhadap penduduk yang beragama Kristen. Mereka melaksanakan administrasi
pemerintahan yang adil di samping menggiatkan ekonomi dengan menganjurkan
perdagangan di antara mereka.
Dinasti
Utsmani banyak mengambil ajaran etika dan politik dari bangsa Persia. Dalam
bidang kemiliteran dan pemerintahan, Dinasti Utsmani dipengaruhi oleh
Bizantium. Namun, jauh sebelum mereka berasimilasi dengan bangsa-bangsa
tersebut, sejak pertama mereka masuk Islam bansa Arab telah menunutun mereka
dalam bidang agama, prinsip-prinsip kemasyarakatan dan hukum. Oleh karena itu
huruf Arab dijadikan huruf resmi kerajaan.
Otoritas
sultan-sultan Utsmani juga didasarkan kepada sebuah kultur kosmopolitan yang
terdiri dari unsur-unsur kultur Arab, Persia, Bizantium dan unsur kultur bangsa
Eropa. Muhammad II mengembangkan syair-syair Persia dan juga seni lukis Eropa.
Sastrawan Arab dan Persia, pelukis Italia, dan pujangga Yunani dan Serbia
berdatangan di istananya. Meskipun demikian, beberapa rezim melepaskan diri
dari unsure pengaruh Kristen dan pengaruh Eropa menuju sebuah kesenian yang
lebih bercorak Islam dan Turki.
Sebagaimana
terdapat pada istana sultan-sultan Arab dan Persia,syair merupakan ekspresi
utama kesenian raja. Syair istana didasarkan pada aruz. Beberapa bentuk
kesenian yang utama adalah beberapa bentuk kesenian yang sebelumnya telah
dikembangkan dalam syair-syair istana Persia.
Penulisan
sejarah periode awal Utsmani disusun dalam bahasa Arab yang diterjemahkan ke
dalam bahasa Turki untuk melegitimasi asal-usul dinasti ini dan kebangkitannya
meraih kekuasaan dan mengurutkan peristiwa keseharian di istana dan berkenaan
dengan kemiliteran. Karya Mustafa Ali(1541-1599) Kunch al-Akhbar memuat
catatan sejarah dunia dari adam sampai Yesus, sejarah Islam masa awal, sejarah
bangsa Turki sampai kebangkitan imperium Utsmani, diakhiri dengan sejarah
Utsmani. Pada abad ke 17, sejarawan dipekerjakan untut mencatat peristiwa
sehari-hari di istana.
Ilustrasi
manuskrip Utsmani juga mengekspresikan sikap Utsmani terhadap nasib kerajaan.
Sejak masa Muhammad II, Dinasti Utsmani mempertahankan sebuah studio istana
atau nakkasbane yang memperkerjakan ahli-ahli geografis, pelukis,
illuminator, dan penjilid buku yang menghasikan manuskrip dan untuk
mengembangkan pola-pola (desain) keramik, kerajinan kayu, kerajinan logam,
tekstil, karpet yang khas Utsmani. Antara tahun 1451 dan 1520, beberapa
preseden menjadi basis bagi seni manuskrip Utsmani. Sejumlah seniman dari
Shiraz, Tabriz, dan Herat berdatangan di Istambul. Beberapa karya yang paling
awal mengilustrasikan salinan dari karya-karya Persia Klasik seperti Attar Language
of the Birds,The Love Story of Khosraw and Shirin, dan karya Amir
Khasraw Khamsa dan fabel Kalila wa Dimna.
Manuskrip
abad 16 beralih dari ilustrasi literaturklasik kepada peristiwa-peristiwa
kontemporer seperti upacara penjamuan duta besar, pengumpulan pajak, dan
penaklukan wilayah-wilayah perbatasan di Balkan. Pada akhir abad enam belas ,
ilustrasi kesejarahan,yang mengingatkan pada kemegahan Negara Utsmani dan
penaklukan yang dicpainya, merupakan kontribusi bangsa Turki yang sangat
berharga bagi tradisi manuskrip Timur Tengah dan tradisi manuskrip muslim yang
tercerahkan. Seni Manuskrip Utsmani mengingatkan pada kesadaran dari kalangan
elite Utsmani sebagai kekuatan sejarah dunia.
Dalam
bidang arsitektur, masjid-masjid di sana membuktikan kemajuannya. Sejumlah
masjid dan perguruan Utsmani mengekspresikan besarnya perhatian Utsmani
terhadap ajaran Islam juga merancang beberapa feature, seperti kubah
tunggal yang sangat besar, menara-menara tinggi yang menjulang, sejumlah
bangunan tiang yang menyangga ruang tengah istana, menunjukan pengaruh kuat
model Aya Shopia, gereja Bizantium yang terbesar. Aya Shopia dijadikan masjid
sejak masa pemerintahan Muhammad al Fatih sampai dengan Kemal Atta Turk. Oleh
Kemal, Aya Shopia dijadikan museum sampai sekarang. Demikianlah masjid-masjid
Utsmani memperagakan pola gereja-gereja Kristen timur yang terbesar, misalnya
“Kubah Batu” di Yerusalem, dan mengekspresikan ketinggian Islam dalam
persaingannya dengan Kristen. Hoja Sinan(1490-1578) adalah tokoh besar dalam
bidang seni arsitektur ini.
Dalam bidang pendidikan, Dinasti Utsmani
mengantarkan pada pengorganisasian sebuah sistem pendidikan madrasah yang
tersebar luas. Madrasah Utsmani pertama didirikan di Izmir pada tahun 1331,
ketika itu sejumlah ulama’ didatangkan dari Iran dan Mesir untuk mengembangkan
pengajaran muslim di beberapa territorial yang baru. Beberapa sultan masa
belakangan mendirikan beberapa perguruan di Bursa, Edirne dan di Istambul. Pada
akhir abad limabelas beberapa perguruan ini disusun dalam sebuah hirarki yang
menentukan jenjang karir bagi ulama-ulama besar. Perguruan yang dibangun oleh
Sulaiman pada tahun 1550 dan 1559 benar benar menjadi perguruan yang tinggi
rankingnya. Ranking yang dibawahnya adalah sejumlah perguruan yang diidirikan
oleh sultan sultan terdahulu dan menempati ranking di bawah beberapa perguruan
tersebut adalah sejumlah perguruan yang didirikan oleh kalangan pejabat Negara
dan ulama’ madrasah tidak hanya diorganisir secara ranking, tetapi juga
dibeda-bedakan berdasarkan beberapa fungsi pendidikan mereka. Madrasah tingkat
terendah mengajarkan nahwu (tata bahasa Arab) dan sharaf (sintaksis),
mantiq (logika), teologi, astronomi, geometri dan retorika. Perguruan
tingkat tertinggi mengajarkan hukum dan teologi.
C. Penyebaran
Peradaban Islam di Afrika
1)
Kedatangan Islam di Afrika Utara
Kehidupan
sosial masa lalu Afrika Utara adalah sebuah kehidupan masyarakat pedesaan yang
bersifat kesukuan, nomad (berpindah-pindah tempat) dan patriarkhi.
Ketika daerah ini berada dibawah kekuasaan Romawi, tak pelak pengaruhnya sangat
besar bagi masyarakat Barbar. umumnya mereka dipengaruhi oleh para elit
kotayang mengadopsi bahasa, gagasan dan adat istiadat para penguasa. Tetapi
elit-elit ini tidak banyak. Selanjutnya, setelah orang-orang Vandal (Barbar)
memperoleh kemenangan, pengaruh Romawi di sebagian besar Afrika mulai berhenti,
kecuali pengaruh ekonomi dan peradaban Barbar lama secara bertahap muncul
kembali. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada abad 1H/7M kehidupan sosial
Afrika Utara lebih merupakan kehidupan masyarakat Barbar yang bersifat
kesukuan, normad dan patriarkhi.
Islam
masuk wilayah Afrika Utara pada saat itu berada di bawah kekuasaan kekaisaran
Romawi sebuah imperium yang amat luas yang melingkupi berbagai Negara dan
berjenis jenis bangsa manusia. Penaklukan daerah ini pada dasarnya sudah mulai
dirintispada masa kekhalifahan umar bin Khatab. Pada tahun 640M ‘Amr ibn al-Ash
berhasil memasuki Mesir setelah sebelum mendapat ijin bersyarat dari khalifah
Umar untuk menaklukan daerah itu.
Pada
masa kekhalifahan Utsman ibn Affan penaklukan Islam sudah meluas sampai ke
Barqah dan Tripoli.penaklukan ataskedua kotaitu dimaksutkan untukmenjaga
keamanan daerah Mesir. Penaklukan itu tidak bertahan lama, karena gubernur
gubernur Romawi menduduki kembali wilayah-wilayah yang telah ditinggalkan itu.
Namun kekejaman dan pemerasan yang mereka lakukan telah mengusik ketentraman
penduduk asli, sehingga tidaklama kemudian penduduk asli sendiri memohon kepada
orang-orang muslim untuk membebaskan mereka dari kekuasaan Romawi. Permohonan
itu disanggupi oleh khalifah sepeninggal Utsman yang pada waktu itu sudah
berpindah ke tangan Muawiyah ibn Sufyan., khalifah pertama daulah Bani Umayah.
Ia bertekad memberikan pukulan terakhir kepada kekuasaan romawi di Afrika
Utara, dan mempercayakan tugas ini kepada seorang panglima yang masyhur, yakni
‘Uqbah ibn Nafi’ al-Fihri (W. 683M), yang telah menetap di Barqah sejak daerah
itu ditaklukan.
Akan
tetapi, pada tahun 683 M orang-orang islam di Afrika Utara mengalami kemunduran
yang hebat, karena orang-orang Barbar di bawah kepemimpinan Kusailah bangkit
memberontak dan mengkalahkan ‘Uqbah. Dia dan pasukannya tewas dalam
pertempuran. Sejak saat itu orang orang Islam tidak berdaya mengembalikan
kekuasaannya di Afrika Utara, karena selain berhadapan dengan bangsa Barbar,
mereka juga harus berhadapan dengan bangsa Romawi yang memanfaatkan kesempatan
dalam pemberontakan Kusailah tersebut.
Pada
saat pemerintahan dipegang oleh Abdul malik ibn Marwan(685-705M), daulah Bani
Umayah mulai bangkit kembali untuk merebut Afrika Utara. Dia mengirimkan
pasukan di bawah pimpinan Hasan ibn Nu’man al Ghassani untuk memulihkan prestise
Islam yang hilang. Pasukan ini berhasil menumpas tentara Romawi dan menghalau
mereka dari Afrika Utara serta berhasil menindas perlawanan bangsa Barbar.
Sejak saat itu Afrika Utara dan daerah Maghribi tidak lagi termasuk lingkungan
daerah Mesir, tetapi telah berdiri sebagai wilayah tersendiri yang diperintah
oleh seorang gubernur yang diangkat oleh khalifah.[3]
2)
Aspek-aspek Kemajuan dalam Peradaban
Sejak
awal kedatangan Islam di Afika Utara, kebudayaan dan peradaban Islam sudah
mulai menampakan perkembangannya. Hal ini ditandai dengan berkembangannya
Qirawan yang dibangun oleh ‘Uqbah ibn Nafi pada tahun 50 H/670 M yang tidak
hanya menjadi kota militer semata, tetapi menjadi salah satu pusat ilmu dan
peradaban yang cemerlang dalam sejarah Islam.
Kebijakan
islamisasi musa ibn Nushair yang diterapkan di daerah itu, meskipun tidak
menjadikan seluruh penduduknya menganut Islam, dapat dikatakan sebagai langkah
rintisan bagi proses perkembangan kebudayaan dan peradaban islam. Paling tidak
dengan kebijakan itu bahasa Arab dijadikan sebagai bahasa resmi Negara dan
pergaulan. Langkah ini sangat efektif, sehingga bahasa Arab dapat menggeser
posisi bahasa Latin, meskipun ia sangat sedikit mempengaruhi dialek dialek asli
bangsa Barbar. Pada gilirannya, kemajuan dalam kemajuan dalam berbagai disiplin
ilmu (yang berkaitan dengan masalah teologi, hukum, sejarah, sastra, puisi,
filsafat, dan biografi) di kemudian hari semua ditulis dalam bahasa Arab.
Arsitektur
Maghribi yang indah dengan pengaruh aransemen timur yang kuatdalam bangunannya,
lahir di kota Qairawan, segara setelah dinasti Aghlabiyah (800-900 M)
menjadikannya sebagai pusat peradaban. Hal ini bisa dilihat pada bangunan
masjid besar Qairawan dan benteng Raqqada, serta kota kediaman para penguasa
yang dibangun tidak jauhdari Qairawan. Beberapa waduk besar untuk irigasi dan
pasokan air bersih bagi penduduk kota, juga berhasil dibangun.
Pada
saat itu, Qairawan bukan hanya menjadi model bagi kehidupan kota orang-orang
Islam di Afrika Utara, tetapi juga menjadi sebuah pusat kebudayaan yang sangat
penting. Para penguasa dinasti Aghlabiyah sangat perduli terhadap masalah
intelektual, dan mereka memiliki jasa yang sangat besar dalam membantu
perkembangan di kota itu. Maka lahirlah berbagai bidang ilmu pengetahuan,
seperti teologi, hukum dan puisi Maghribi. Bahkan dapat dikatakan sampai akhir
abad 3H/9M, perkembangan intelektual di Qairawan dapat dipersamakan dengan
pusat-pusat kebudayaan muslim yang lain pada masanya. Diantara ilmu-ilmu
terkemuka lulusan sekolah Qairawan adalah Sahnun, seorang ahli hukum bermadzhab
Maliki yang pengaruhnya masih terasa sampai sekarang.
Di
samping Qairawan, Tahart (Tiaret) juga mengalami kemajuan yang cukup pesat. Di
bidang ekonomi, daerah mengalami kemakmuran material yang luar biasa. Ia
menjadi terminal dari salah satu rute kafilah trans-sahara, sehingga dinamakan
“Irak Kecil”, di samping menjadi pusat kesarjanaan. Segala macam pajak yang
sangat memberatkan rakyat dihapuskan. Penghasilan yang dapat dikumpulkan untuk
negara sebesar 120.000 pound emas. Kehidupan masyarakat subur makmur dan rakyat
merasa tentram dan damai. Sementara itu daerah Maroko merupakan tempat
penyebaran kultur Islamdi kalangan masyarakat Barbar, khususnya kultur Syi’ah.
Hal
lain yang mencerminkan ketinggian peradaban Islam di Afrika Utara adalah
kemajuan di bidang ilmu kebahasaan. Pada masa ini muncullah tokoh-tokoh Lexicographer.
Sementara kemajuan di bidang kesehatan dapat dilihat dengan berdirinya
sebuah rumah sakit yang besar di Marrakesh.
Di
bidang kedokteran ada tokoh terkenal yaitu Abu Marwan ibn Abdul Malikibn Zuhr
yang lebih dikenal Ibn Zuhr. Ia adalah seorang tabib dan ahli bedah terkenal
yang hidup sezaman dengan Ibn Rusyd (w. 1198 M). Dia lahir di Penaflor sebagai
keturunan kabilah Arab, Iyaz ibn Nizar, sehingga di belakang namanya biasanya
ditambah al-Iyazi. Keahliannya itu kemudian diabadikan kepada Yusuf ibn
Tasyfin, khalifah Bani al-Murabithun. Dialah yang pertama kali memikirkan Bronchotomi
dengan menunjukan secara jelas cerai sendi dan patah tulang. Puteranya, Marwan,
juga mengikuti jejak ayahnya menjadi ahli bedah dan dokter tentara Yusuf ibn
Tasyfin.
Di
bidang sejarah dan sosiologi, tokoh Ibn Khaldun (w. 1406 M) menjadi maestro
terbesar dalam sejarah Islam. Dia adalah keturunan Yaman yang lahir Tunis pada
tahun 1332 M. Keluarganya berasal dari Hadramaut yang berimigrasi ke Afrika
Utara ratusan tahun sebelumnya, sehingga di belakang namanya kadang-kadang
ditambah al-Hadrami. Di samping dikenal sebagai “bapak filsafat sejarah” dia
juga dikenal sebagai “bapak sosiologi” yang teori-teorinya masih menjadi
rujukan para sosiolog modern dewasa ini. Kitab sejarahnya yang besar adalah Kitab al-Ibar yang ditulis selama 4 tahun
di suatu daerah dekat Oran. Sementara karya masterpiece-nya adalah kitab
Muqaddimah. Dalam kitab itu dia menyelidiki asal-usul masyarakat,
perkembangan peradaban, hukum-hukum perubahan sosial, sebab-sebab timbul dan
jatuhnya kerajaan-kerajaan dan dinasti-dinasti, juga pengaruh iklim atas
pembentukan watak bangsa.[4]
D. Pengaruh
Peradaban Islam di Barat
Ilmu pengetahuan islam pada mulanya berkembang di
daratan Eropa yaitu Tolado, Kardova, dan Sevilla, Dinogari Andalusia. Kemudian
mengalir ke negara-negara Barat lewat kaum terpelajar Barat. Mereka
menerjemahkan buku-buku karangan umat islam dalam bahasa Barat. Di antara
pelajar Barat tersebut adalah :
1) Abolart
Bath. Beliau berpendidikan islam di Tolado, kemudian ahli matematika dan
sebagai ahli filsafat Inggris yang mashur.
2) Mazarabez.
Beliau beragama islam, tetapi karena terpaksa oleh lingkungan Barat yang
kristen dan supaya tidak dicurigai maka beliau mengubah namanya menjadi Petrus
al-Phonsi. Beliau ke Inggris dan menjadi doktor istana raja Inggris Henri I.
dia membuka perguruan tinggi serta mengajarkan pengetahuan islam.
3) Archedeacon
Dominico Gundisavi. Beliau mendirikan Bait al-Hikmah. Di sini adalah tempat
buku-buku bahasa arab.
4) Ibnu
Dawud. Seorang islam bangsa Yahudi. Di Barat terkenal dengan nama Avendeath.
Beliau menyalin buku-buku berbahasa arab ke bahasa lain mengenai ilmu astronomi
dan astrologi.
5) Gerard
Cremona. Beliau lahir di Cremona Italia tahun 1114 M. beliau menerjemahkan buku
tentang filsafat, matematika, kedokteran.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa masa
keemasan bani Abbasiyah dicapai pada periode pertama. Masa keemasan tersebut
bisa kita lihat dari makin luasnya pemerintahan Bani Abbasiyah, dan
berpindahnya ibu kota ke Baghdad, di mana ibu kota Baghdad merupakan pusat
intelektual pada masa itu. Pada periode ini yang biasa kita sebut dengan The
golden age.
Sebenarnya pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah banyak
terjadi pemberontakan-pemberontakan. Tetapi pada periode pertama ini
pemberontakan-pemberontakan dapat diatasi, meskipun belum sampai ke
akar-akarnya. Pemerintah Bani Abbasiyah mencapai keemasan juga didukung oleh
beberapa faktor, diantaranya sebagai penerjemah memberi pendapatnya. Hal ini
dilakukan karena keterbatasan manusia dalam berfikir cara inilah yang terbaik
dalam memajukan ilmu pengetahuan. Cara seperti ini juga tidak akan berhasil
jika tidak didukung oleh seluruh rakyat. Dari sinilah muncul para intelektual
muslim yang sangat berpengaruh dalam ilmu pengetahuan.
Al-Mahdi, Al-Hadi, Harun ar-Rasyid, al-Ma’mum,
al-Mu’tashim, al-Wasiq, dan al-Mutawakil merupakan orang-orang piawai dengan
ilmu pengetahuan dan akhlak yang mulia bisa membawa nama baik sebuah bangsa
umumnya dan kekhalifahan pada khususnya, sehingga dimata dunia disebut sebagai
tokoh-tokoh (ilmuan) masa keemasan di zaman khalifah Abbasiyah.
Dari beberapa khalifah yang memimpin pada periode
pertama dapat disimpulkanbahwa masa keemasan dicapai pada masa pemerintahan
khalifah al-Mahdi, al-Hadi, Harun ar-Rasyid, al-Ma’mun, al-Mu’tashim, al-Wasik,
dan al-Mutawakil.
Tetapi ada anggapan bahwa pada masa khalifah Harun
ar-Rasyid lah puncak keemasan di antara khalifah-khalifah lainnya. Salah satu
sebab timbulnya anggapan tersebut adalah beliau mendirikan Baitul Hikmah yang
merupakan institusi kebudayaan dan pikiran yang cemerlang saat itu.
Pada masa keemasan Bani Abbasiyah juga lahir
tokoh-tokoh intelektual muslim, diantaranya al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd,
al-Ghazali, al-Khawarijmi, dan al-Battani. Semua tokoh-tokoh di atas sangat
berperan dalam perkembangan ilmu pengetahuan di masa Bani Abbasiyah tersebut.[5]
E. Kontribusi
Intelektual Islam Terhadap Dunia Barat
Dalam masa lebih dari tujuh abad, kekuasaan islam di
Spanyol. Umat islam telah mencapai kejayaannya di sana. Banyak prestasi yang
mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa dan kemudian dunia kepada
kemajuan yang lebih kompleks.
Spanyol adalah negeri yang subur. Kesuburannya itu
mendatangkan penghasilan ekonomi yang tinggi dan banyak menghasilkan pemikir.
Masyarakat Spanyol islam merupakan masyarakat majmuk yang terdiri dari
komunitas-komunitas arab.[6]
Tidak hanya itu, perkembangan ilmu pengetahuan dalam
dunia islam di abad pertengahan juga didukung dengan adanya kekuatan sistem
pendidikan islam yang integral dan dinamis. Sehingga mampu menghasilkan
cendekiawan-cendekiawan besar pada hampir disegala bidang keilmuan. Hal inilah
yang pada akhirnya dapat memberikan konstribusi yang besar terhadap
perkembangan ilmu pengetahuan di masa-masa selanjutnya terutama di Barat. Di
samping itu, dinamika yang demikian masih terbungkus dengan akhlak islami yang
diperlihatkan.
Perkembangan ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh
para ilmuan muslim telah melahirkan berbagai karya besar diberbagai bidang
keilmuan yang menjadi referensi bagi ilmuan Barat pada masa selanjutnya.[7]
Di antara kontribusi intelektual islam atas dunia
Barat di bidang intelektual adalah :
1)
Filsafat
Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya
yang sangat brilian dalam bentang sejarah islam. Ia berperan sebagai jembatan
penyebrangan yang dilalui ilmu pengetahuan. Yunani Arab datang ke Eropa pada
abad ke-12. Minat terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan
pada abad ke-9 M selama pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5 Muhammad
Abd ar-Rahman (832-886 M).
Atas inisiatif al-Hakam (961-979 M) karya-karya
ilmiah dan filosofis diimport dari timur dalam jumlah besar, sehingga Cordova
dengan perpustakaan dan universitas-universitasnya mampu menyaingi Baghdad
sebagai pusat utama ilmu pengetahuan didunia islam. Apa yang dilakukan oleh
para pemimpin dinasti Bani Umayyah di Spanyol ini merupakan persiapan untuk
melahirkan filosof-filosof besar pada masa sesudahnya.
Tokoh utama pertama dalam sejarah filsafat
Arab-Spanyol adalah Abu Bakar Muhammad ibn as-Sayigh yang lebih dikenal dengan
Ibn Bajah dilahirkan di Saragosa. Ia pindah di Sevilla dan Granada. Meninggal
karena keracunan di Fez tahun 1938 M dalam usia yang masih muda.
Tokoh utama kedua adalah Abu Bakar ibn Tuffail
penduduk asli Wadi Asy sebuah dusun kecil disebelah timur Granada dan wafat
pada usia lanjut tahun 1985 M. Ia banyak menulis masalah kedokteran, astronomi,
dan filsafat. Karya filsafatnya yang terkenal adalah Hay ibn Yaqzhan.
Bagian akhir abad ke-12 M menjadi saksi munculnya
pengikut aristoteles yang terbesar digelanggang filsafat dalam islam yaitu ibn
Rusyd dari Cordova. Ia lahir pada tahun 926 M dan meninggal pada tahun 998 M.
Ciri khasnya adalah kecermatan dalam menggeluti masalah-masalah menahun tentang
keserasian filsafat dan agama. Dia juga ahli fiqh dengan karyanya Bidayah
al-Mujtahid. Karya-karya Ibn Rusyd yang terkenal adalah Mabadu
Falasifah, Kulliyat, Tafsir Urjuza, Kasful Afillah, kitab dogma-dogma dan
lainnya. Ibn Rusyd juga seorang dokter di samping filosof. Buku kedokterannya
yang terkenal adalah al-Hawi.
2) Sains
Ilmu-ilmu kedokteran, musik, astronomi, kimia dan
lain-lain juga berkembang dengan baik, Abbas ibn Farnas termasyhur dalam ilmu
kimia dan astronomi. Ibrahim dan Ibn Yahya an-Naqash terkenal dalam ilmu
astronomi. Ia dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan
berapa lamanya. Ia juga berhasil membuat teropong modern yang bisa menentukan
jarak antara tata surya dan bintang. Ahmad ibn Ibbas dari Cordova adalah ahli
dalam bidang obat-obatan. Umm al-Hasan binti Abi Ja’far dan saudara perempuan
al-Hafidz adalah dua orang ahli kedokteran dari kalangan wanita.
Para dokter ahli
kedokteran yang terkenal antara lain :
a) Thabib
ibn Qurra’ (221-228 H/836-901 M) dianggap sebagai bapak ilmu kimia.
b) Ar-Razi
atau Razes (251-313 H/809-873 M) karangannya terkenal dalam bidang penyakit
campak dan cacar yang diterjemahkan dalam bahasa latin.
c) Ibnu
Sina (370-428 H/980-1037 M) orang eropa menyebutnya Avicena. Di samping
seorang filosof, ia juga seorang dokter dan ahli musik. Karangannya yang
terkenal adalah Shafa (terdiri dari 18 jilid), Najat, Sadidiya (terdiri
dari 5 jilid), Danes Nameh, al-Qanun fi at-Thib (buku tentang kedokteran
yang diterjemahkan dalam bahasa latin).
Dalam bidang sejarah dan geografi, melahirkan banyak
pemikir terkenal. Ibnu Jubar dari Valencia (1145-1228 M) menulis tentang
negeri-negeri muslim Mediteronia dan Seolia dan Ibnu Batuthah dari Fagier
(1304-1377 M) mencapai Samudra Pasai dan Cina. Ibnu al-Khatib (1317-1374 M)
menyusun riwayat Granada sedangkan Ibnu Khaldun dari Tunis adalah perumus
filsafat sejarah.
3) Fiqih
Dalam bidang fiqih Spanyol Islam dikenal sebagai
penganut madzhab Maliki. Yang memperkenalkan mazdhab Maliki di sana adalah
Ziyad ibn Abd ar-Rahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibnu Yahya
yang menjadi qadhi pada masa Hisyam ibn Abd ar-Rahman. Ahli-ahli fiqih lainnya
di antaranya adalah Abu Bakar ibn al-Quthiyah, Munzir ibn Said al-Baluthi, dan
Hazm yang terkenal.
4) Musik
dan Kesenian
Dalam bidang musik dan seni suara islam mencapai
kecermelangan dengan tokohnya al-Hasan ibn Nafi’ yang dijuluki Zaryab. Setiap
kali diselenggarakan pertemuan dan jamuan, Zaryab selalu tampil dan
mempertunjukkan kebolehannya.
5) Bahasa
dan Sastra
Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam
pemerintahan islam di Spanyol. Hal itu dapat diterima oleh orang-orang islam
dan non islam, bahkan penduduk asli Spanyol menomorduakan bahasa asli mereka.
Juga banyak yang ahli dan mahir dalam bahasa Arab. Baik keterampilan berbicara
maupun tata bahasa seperti Abu Ali al-Isybili, Abu al-Hasan ibn Usfur dan Abu
Hayyan al-Gharnathi.
Seiring dengan kemajuan bahasa itu,
karya-karya sastra banyak bermunculan seperti al-Iqd al-Farid karya Ibnu
Abd Rabbih, al-Dzakirah fi Mahasin ahl al-Jazirah oleh ibn Bassam, dan
kitab al-Qalaid karya al-Fath ibn Khaqan.[8]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pada kebudayaan Andalusia bidang ilmu keislaman yang
berkembang saat itu antara lain yaitu fiqih, hadits, tafsir, ilmu kalam, ilmu
sejarah, tata bahasa arab dan juga filsafat.
Islam masuk wilayah
Afrika Utara pada saat itu berada di bawah kekuasaan kekaisaran Romawi sebuah
imperium yang amat luas yang melingkupi berbagai Negara dan berjenis jenis bangsa
manusia. Penaklukan daerah ini pada dasarnya sudah mulai dirintispada masa
kekhalifahan umar bin Khatab. Pada tahun 640M ‘Amr ibn al-Ash berhasil memasuki
Mesir setelah sebelum mendapat ijin bersyarat dari khalifah Umar untuk
menaklukan daerah itu.
Di antara kontribusi intelektual islam atas dunia
Barat di bidang intelektual adalah :
- Filsafat
2. Sains
3. Fiqih
4. Musik
dan Kesenian
5. Bahasa
dan Sastra
B.
Saran
Demikian makalah yang dapat kami susun, kami
menyadari bahwa masih banyak kekurangan, oleh sebab itu kritik dan saran yang
membangun dari para pembaca sangat kami harapkan. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.
DAFTAR PUSTAKA
A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan
Islam, PT Karya Uniperss, Jakarta; 1979
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam
Dirasah Islamiyah II, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta; 2004
Dudung Abdurahman, Sejarah
Peradaban Islam, LESFI, Yogjakarta; 2009
Fatah Syukur, Sejarah Peradaban
Islam, PT Pustaka Rizki Putra, Semarang; 2012
Musyrifah
Sunanto, Sejarah Islam Klasik, Prenada Media, Jakarta; 2003

Samsul
Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, Kencana Prenada Media Group, Jakarta;
2009
[1] Musyrifah Sunanto, Sejarah
Islam Klasik, Prenada Media, Jakarta; 2003, Hal 126-131
[2] Dudung Abdurahman, Sejarah
Peradaban Islam, LESFI, Yogjakarta, 2009, Hal. 127-128
[3]
Dudung Abdurahman, Ibid, Hal
220-222.
[4]
Dudung Abdurahman, Ibid, Hal 230-233.
[5]
Fatah Syukur, Sejarah
Peradaban Islam, PT Pustaka Rizki Putra, Semarang; 2012, Hal 108-109
[6] Badri Yatim, Sejarah Peradaban
Islam Dirasah Islamiyah II, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta; 2004, Hal 100
[7] Samsul Nizar, Sejarah
Pendidikan Islam, Kencana Prenada Media Group, Jakarta; 2009, Hal 146-147
[8] Ibid, Hal 125-128
Tidak ada komentar:
Posting Komentar