MAKALAH
GEJALA PSIKOLOGI DALAM KEBERAGAMAAN
Dipresentasikan Pada Mata Kuliah Psikologi Islam
Semester 3 Tahun 2014
Dosen pembimbing : Drs. H. Ahmad Choiron, M.Ag
Disusun oleh :
Kelompok II
2.
Azimmatul Khoiroh (1310110054)
3.
Siti Fatimah (1310110067)
4.
Djesica Maharani Hariyanto (1310110069)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN
TARBIYAH (PAI)
TAHUN
2014
I.
PENDAHULUAN
Psikologi berasal dari kata Yunani psyche yang artinya jiwa dan logos
berarti ilmu pengetahuan. Dengan demikian psikologi berarti ilmu yang
mempelajari tentang jiwa. Namun demikian kata jiwa bukanlah kata yang mudah
dipahami begitu saja, sebab jiwa memiliki arti yang beragam dan masih sangat
kabur. Pengertian ilmu jiwa itu sebenarnya berbeda dengan psikologi karena jiwa
mencakup pengertian yang sangat luas termasuk khayalan dan spekulasi tentang
jiwa, sedangkan psikologi yang sesungguhnya adalah ilmu pengetahuan mengenai
jiwa yang dibangun dengan menggunakan metode ilmiah
Psikologi juga dapat dikatakan sebagai disiplin ilmu. Dalam
kehidupan sehari-hari, sebagian orang telah merasa bahwa dirinya telah mengerti
psikologi yang dianggap semacam ilmu untuk mengenal sifat dan watak manusia.
Setiap orang secara alamiah telah mengembangkan cara untuk mengenal orang lain
melalui pengalaman pribadinya. Dengan cara yang demikian ia merasa mampu
menyelesaikan masalah psikologis tanpa bantuan psikologi
Dalam makalah ini, dengan gejala-gejala psikologi dalam
keberagamaan, akan diuraikan tentang macam dari gejala psikologi dalam
keberagamaan dan peran agama dalam kehidupan seseorang menurut perspektif psikologi islam.
Dalam
ajaran agama terdapat banyak sikap batiniah yang dimiliki seseorang, misalnya
beriman, bertaqwa, berbuat jujur dan lain sebagainya. Semua itu merupakan
gejala kejiwaan yang ada pada manusia dalam keberagamaan.
II.
PERMASALAHAN
Berdasarkan
wacana diatas, maka dapat diambil bebarapa permasalahan sebagai berikut :
1.
Mengapa
kita harus mengetahui Macam dari Gejala
Psikologi Islam ?
2.
Bagaimana
Gejala Psikologi dalam Keberagamaan
?
3.
Bagaimana
Peran Agama dalam Kehidupan Seseorang Menurut Perspektif Psikologi Islam ?
III.
PEMBAHASAN
Psikologi hadir sebagai wujud perubahan serta respon keprihatinan
atas pemikiran peradaban modern yang gagal dalam upaya mensejahterakan moral
spiritual, sehingga hanya bertitik tolak pada kisaran empiris inderawi (otak)
atau fakta lapangan sebagai tendensinya saja tanpa memasukan unsure
transendenendental (non-inderawi)
Psikologi pada umumnya mempelajari tentang gejala-gejala manusia
yang sering berkaitan kognitif, afektif, konasi, dan campuran. Dan berdasarkan
pandangan psikologi agama bahwasanya perilaku beragama dipengaruhi faktor
intern dan ekstern (saling mendukung sehingga dapat memunculkan keberagaman
yang sinergis). Kedudukan psikologi sendiri adalah sebagai titk kedudukan
psikologi sendiri adalah sebagai titik singgung faktor intern yang dapat
menghantarkan seseorang memahami agama secara keseluruhan dengan penyempurnaan/
pembuktian yang berwujud perilaku beragama.
Mengetahui macam gejala-gejala dari psikologi merupakan salah satu
pengetahuan yang sangat penting dalam memahami dan mempelajari psikologi islam.
Karena dengan kita mengetahuinya maka dapat di ketahui pula bagaimana seorang
harus berinteraksi kepada sesama manusia maupun kepada sang pencipta. Dan ilmu
psikologi di anggap hal yang sangat penting, dan merupakan kelanjutan studi
tentang tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari, baik berupa tingkah
laku yang kelihatan maupun tidak kelihatan dalam artian secara dhohiriyah.
Adapun gejala pokok tersebut dapat di ambil melalui sikap dan
perilaku seseorang, ahli psikologi berpendapat ada 4 gejala :
1.
Gejala
pengenalan (kognisi), antara lain : pengindraan, pengamatan, tanggapan, reproduksi,
asosiasi, ingatan, fantasi, berfikir, intelegensi, intuisi dan pengamatan
melalui panca indera.
2.
Gejala
perasaan (emosi), antara lain : perasaan, affek, stemming, simpati dan empati.
3.
Gejala
kemauan (konasi), antara lain : kemauan meliputi dorongan, keinginan, hasrat, kecenderungan
dan hawa nafsu.
4.
Gejala
campuran (psikomotorik) adalah serangkaian minat dan perhatian.[1]
Bahwa perkembangan individu itu akan ditentukan baik oleh faktor
pembawaan (dasar) atau faktor endogen, maupun oleh faktor keadaan atau
lingkungan atau faktor eksogen.[2]
Perkembangan gejala psikologi dalam keberagamaan di pengaruhi oleh banyak hal,
diantaranya tingkat kecerdasan dan rentan usia, kedua hal tersebut sangatlah
tinggi perannya dalam respon ajaran-ajaran agama yang kemudian di aplikasikan
dalam kehidupan manusia sebagai wujud untuk meningkatkan keimanan dengan jalan
interaksi dengan tuhan.
A.
Gejala
Psikologi Anak dalam Keberagamaan
Pada waktu lahir anak belum beragama. Ia baru memiliki potensi atau
fitrah untuk berkembang menjadi manusia beragama. Perkembangan kesadaran
beragama anak sangat di pengaruhi oleh keimanan, sikap, dan tingkah laku kedua
orang tuanya. Oleh karena itu peran orang tua disini sangat penting terkait
dengan mebimbing anaknya dalam merespon agama maupun tentang segala sesuatu dalam
membentuk kepribadian si anak agar berperilaku baik.
Dalam bukunya the Development of Religious on Children,
bahwa Ernest Harms mengatakan bahwa peekembangan agama pada anak-anak
itu melalui tiga tingkatan, yaitu :
1.
The
fairy talle stage (tingkat dongeng).
Tingkatan ini dimulai pada anak yang berusia 3-6 tahun. Pada
tingkatan ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan
emosi. Pada tingkat perkembangan ini anak menhayati konsep ketuhanan sesuai
dengan tingkat perkembangan intelektualnya. Kehidupan masa ini masih banyak
dipengaruhi kehidupan fantasi, hingga dalam menanggapi agama pun anak masih
menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongeng-dongeng yang kurang
masuk akal.
2.
The
Realistic Stage (Tingkat Kenyataan)
Tingkat
ini dimulai sejak anak masuk Sekolah Dasar hingga ke usia (mas usia) adolesense.
Pada masa ini, ide ketuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang
berdasarkan kepada kenyataan (realitas). Konsep ini timbul memalui
lembaga-lembaga keagamaan dan pengajaran agama dari orang dewasa lainnya. Pada
masa ini ide keagamaan anak didasarkan atas dorongan emosional, hingga mereka
melahirkan konsep Tuhan yang formalis. Berdasarkan hal itu, maka pada masa ini
anak-anak tertarik dan senang pada lembaga keagamaan yang mereka lihat dikelola
oleh orang dewasa dalam lingkungan mereka. Segla bentuk tindak atau amal
keagamaan mereka ikuti dan pelajari dengan penuh minat.
3.
The
Individual Stage (Tingkat Individu)
Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang paling
tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang
individualistis ini terbagi atas tiga golongan, yaitu:
1.
Konsep
keTuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil
fantasi. Hal tersebut disebabkan oleh pengaruh luar.
2.
Konsep
keTuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam pandangan yang bersifat
personal (perorangan).
3.
Konsep
keTuhanan yang bersifat humanistik. Agama telah menjadi etos humanis pada diri
mereka dalam menghayati ajaran agama. Perubahan ini setiap tingkatan
dipengaruhi faktor intern yaitu perkembangan usia dan faktor ekstern berupa
pengaruh luar yang dialaminya.[3]
B.
Gejala
Psikologi Remaja Dalam Keberagamaan
Sejalan
dengan perkembangan jasmani dan rohaninya, maka agama pada para remaja turut dipengaruhi
perkembangan itu. Maksudnya penghayatan para remaja terhadap ajaran agama dan
tindak keagaman yang tampak pada para remaja banyak berkaitan dengan faktor
perkembangan tersebut.
Perkembangan
agama pada para remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan rohani dan
jasmaninya. Perkembangan itu antara lain menurut W.Starbuck adalah:
a.
Pertumbuhan
Pikiran dan Mental
Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa
kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis terhadap
ajaran agama mulai timbul. Selain masalah agama mereka pun sudah tertarik pada
masalah kebudayaan, sosial, ekonomi, dan norma-norma kehidupan lainnya.
Sebaliknya, agama yang ajarannya kurang konservatif-dogmatis dan
agak liberal akan mudah merangsang pengembangan pikiran dan mental para remaja,
sehingga mereka banyak meninggalkan ajaran agamanya. Hal ini menunjukan bahwa
perkembangan pikiran dan mental remaja mempengaruhi sikap keagamaan mereka.
b.
Perkembangan
Perasaan
Berbagai perasaan telah berkembang pada masa remaja. Perasaan
sosial, etis, dan estesis mendorong remaja untuk menghayati perikehidupan yang
terbiasa dalam lingkungannya. Kehidupan religius akan cenderung mendorong
dirinya lebih dekat ke arah hidup yang religius pula. Sebaliknya, bagi remaja
yang kurang mendapat pendidikan dan siraman ajaran agama akan lebih mudah
didominasi dorongan seksual. Masa remaja merupakan masa kematangan seksual.
Didorong oleh perasaan ingin tahu dan perasaan super, remaja lebih mudah
terperosok ke arah tindakan seksual yang negatif.
c.
Pertimbangan
Sosial
Corak
keagamaan remaja juga ditandai oleh adanya pertimbangan sosial. Dalam kehidupan
keagamaan mereka timbul konflik antara pertimbangan moral dan material. Remaja
sangat bingung menentukan pilihan itu. Karena kehidupan duniawi lebih
dipengaruhi kepentingan akan materi, maka para remaja lebih cenderung jiwanya
untuk bersikap materialis.
d.
Perkembangan
Moral
Perkembangan
moral para remaja bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mencari
proteksi. Tipe moral yang juga terlihat pada remaja juga mencakupi: Pertama, Self-dierctive
yaitu taat terhadap agama atau moral berdasarkan pertimbangan pribadi.
Kedua, Adaptive yaitu mengikuti situasi lingkungan tanpa mengadakan
kritik. Ketiga, Submissive yaitu merasakan adanya keraguan terhadap
ajaran moral dan agama. Keempat, Unadjusted yaitu belum meyakini akan
kebenaran ajaran agama dan moral. Kelima, Deviant yaitu menolak dasar
dan hukum keagamaan serta tatanan moral masyarakat.
e.
Sikap
dan minat
Sikap
dan minat remaja terhadap masalah keagamaan boleh dikatakan sangat kecil dan
hal ini tergantung dari kebiasaan kecil serta lingkungan agama yang
mempengaruhi mereka (besar kecil minatnya).
f.
Ibadah
Dari
penelitian yang telah dilakukan ternyata 17% remaja menyatakan sembahyang
bermanfaat untuk berkomunikasi dengan Tuhan, sedangkan 26% di antaranya
menganggap bahwa sembahyang hanyalah merupakan media untuk bermeditasi.[4]
C.
Gejala
Psikologi Orang Dewasa dalam Keberagamaan
Orang
dewasa sudah memiliki identitas yang jelas dan kepribadian yang mantap.
Kemantapan jiwa orang dewasa ini setidaknya memberikan gambaran tentang
bagaimana sikap keberagamaan pada orang dewasa. Mereka sudah memiliki tanggung
jawab terhadap sistem nilai yang dipilihnya, baik sistem nilai yang bersumber
dari ajaran agama maupun yang bersumber dari norma-norma lain dalam kehidupan.
Pokonya, pemilihan nilai-nilai tersebut telah didasarkan atas pertimbangan
pemikiran yang matang. Berdasarkan hal ini, maka sikap keberagamaan seorang di
usia dewasa sulit untuk diubah. Jika pun terjadi perubahan mungkin proses itu
terjadi setelah didasarkan atas pertimbangan yang matang.
Sebaliknya,
jika seseorang dewasa memilih nilai yang bersumber dari nilai-nilai nonagama,
itu pun akan dipertahankannya sebagai pandangan hidupnya. Kemungkinan ini
memberi peluang bagi munculnya kecenderungan sikap antiagama, bila menurut
pertimbangan akal sehat, (common sense), terdapat kelemahan-kelemahan
tertentu dalam ajaran agama yang dipahaminya. Bahkan tak jarang sikap antiagama
seperti itu diperlihatkannya dalam bentuk sikap menolak hingga ke tindakan
memusuhi agama yang dinilainya mengikat dan bersifat dogmatis.
Sebaliknya,
jika nilai-nilai agama yang mereka pilih dijadikan pandangan hidup, maka sikap
keberagamaan akan terlihat pula dalam pola kehidupan mereka. Sikap keberagamaan
itu akan dipertahankan sebagai identitas dan kepribadian mereka. Sikap
keberagamaan ini membawa mereka secara mantap menjalankan ajaran agama yang
mereka anut. Sehingga, tak jarang sikap keberagamaan ini dapat menimbulkan
ketaatan yang berlebihan dan menjurus ke sikap fanatisme. Karena itu, sikap
keberagamaan seorang dewasa cenderung di dasarkan atas pemilihan terahap ajaran
agama yang dapat memberikan kepuasan batin atas dasar pertimbangan akal sehat.
Sikap
keberagamaan orang dewasa memiliki perseptif yang luas didasarkan atas
nilai-nilai yang dipilihnya. Selain itu, sikap keberagamaan ini umumnya juga
dilandasi oleh pendalaman pengerrtian dan perluasan pemahaman tentang ajaran
agama yang dianutnya. Beragama, bagi orang dewasa sudah merupakan sikap hidup
dan bukan sekedar ikut-ikutan.
Sejalan
dengan tingkat perkembanagn usia, maka sikap keberagamaan pada orang dewasa
antara lain memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.
Menerima
kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan sekadar
ikut-ikutan.
2.
Cenderung
bersifat realis, sehingga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam
sikap dan tingkah laku.
3.
Bersikap
positif terhadap ajaran dan norma-norma agama, dan berusaha untuk mempelajari
dan memperdalam pemahaman kaagamaan.
4.
Tingkat
ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga
sikap keberagamaan merupakan realisasi dan sikap hidup.
5.
Bersikap lebih terbuka dan wawasan yang lebih
luas.
6.
Bersikap
lebih kritis terhadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain
berdasarkan atas pertimbangan pikiran, juga didasarkan atas pertimbangan hati
nurani.
7.
Sikap
keberagamaan cendeung mengarah kepada tipe-tipe kepribadian masing-masing,
sehingga terlihat adanya pengaruh kepribadian dalam menerima, memahami serta
melaksanakan ajaran agama yang diyakininya.
8.
Terlihat
adanya hubungan antara sikap keberagamaan dengan kehidupan sosial, sehingga
perhatian terhadap kepentingan organisasi sosial keagamaan sudah berkembang.
D.
Gejala
Psikologi Orang Dewasa Lanjut dalam Keberagamaan
Adapun di usia selanjutnya, yaitu setelah usia di atas 65 tahun
manusia akan menghadapi sejumlah permasalahan. Permasalahan pertama adalah
penurunan kemampuan fisik hingga kekuatan fisik berkurang, akitivis menurun,
sering mengalami gangguan kesehatan yang menyebabkan mereka kehilangan
semangat. Seiring dengan meningkatnya usia, orang pada masa dewasa lanjut tidak
sulit mengikuti dogma-dogma agama dan melakukan kunjungan ke tempat ibadah
(untuk beribadah, seperti ke masjid), mengunjungi para ulama, dan orang-orang
yang berbeda kepercayaan dengan sikap yang lebih lunak. Ketertarikannya
terhadap agama sering dipusatkan pada masalah kematian yang menjadi sesuatu
yang bersifat pribadi. Dan menurunnya kehadiran dan partipasi dalam kegiatan di
masjid pada usia lanjut tidak minat adalah lebih sedikit daripada faktor-faktor
lain seperti kesehatan memburuk, tidak ada transportasi, malu karena tidak
mempunyai pakaian yang sesuai atau tidak mampu menyumbang uang, dan perasaan tidak
butuhkan oleh anggota organisasi masjid yang lebih muda.
Kehidupan keagamaan pada usia lanjut ini menurut hasil menurut
hasil penelitian psikologi agama
meningkat. Temuan menunjukkan secara jelas kecenderungan untuk menerima
pendapat keagamaan yang semakin meningkat pada umur-umur ini.
Dalam banyak hal, tak jarang para ahli psikologi menghubungakan
kecenderungan peningkatan kehidupan keagamaan dengan penurunan kegairahan
seksual. Menurut pendukung pendapat ini manusia usia lanjut mengalami frustasi di
bidang seksual, sejalan dengan penurunan kemampuan fisik dan frustasi semacam
itu dinilai sebagai satu-satunya faktor yang membentuk sikap keagamaan.
Berbagai latar belakang yang menjadi penyebab kecenderungan sikap keagamaan
pada manusia lanjut, secara garis besarnya ciri-cirinya keberagamaan di usia
lanjut adalah:
1.
Kehidupan
keagamaan pada usia lanjut sudah mencapai tingkat kemantapan.
2.
Meningkatnya
kencenderungan untuk menerima pendapat keagamaan.
3.
Mulai
muncul pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akherat secara lebih
sungguh-sungguh.
4.
Sikap
keagamaan cenderung mengarah kepada kebutuhan saling cinta antarsesama manusia,
serta sifat-sifat luhur.
5.
Timbul
rasa takut kepada kematian yang meningkat sejalan dengan pertambahan usia
lanjutnya.[5]
E.
Peran
Agama dalam Kehidupan Seseorang Menurut Perspektif Psikologi Islam
Walaupun para psikolog belum sependapat dengan kemutlakan naluri
beragama pada diri manusia, namun sebagian besar dari mereka membenarkan naluri
beragama itu, mereka beranggapan bahwa semacam dorongan pada diri manusia yang
menyebabkan mereka cenderung untuk mengakui adanya suatu zat yang adikodrati
(supranatural).
Dalam ajaran agama Islam, bahwa adanya kebutuhan terhadap agama
disebabkan manusia selaku makhluk Tuhan dibekali dengan berbagai potensi
(fitrah) yang dibawa sejak lahir. Salah satu fitrah tersebut adalah
kecenderungan terhadap agama. Dalam fitrah beragama, iman menjadi kekuatan
inti. Fitrah mengandung komponen psikologis yang berupa keimanan, karena iman
bagi seorang mukmin merupakan daya penggerak utama dalam dirinya yang memberi
semangat untuk selalu mencari kebenaran yang hakiki dari Allah, Tuhan Yang Maha
Esa.
Atas dasar ini, Muhammad Thahir bin Ashur dalam tafsirnya tentang
surat ar-Rum ayat 30, Allah berfirman sebagai berikut:
óOÏ%r'sù
y7ygô_ur
ÈûïÏe$#Ï9
$ZÿÏZym
4
|NtôÜÏù
«!$#
ÓÉL©9$#
tsÜsù
}¨$¨Z9$#
$pkön=tæ
4
w
@Ïö7s?
È,ù=yÜÏ9
«!$#
4
Ï9ºs
ÚúïÏe$!$#
ÞOÍhs)ø9$#
ÆÅ3»s9ur
usYò2r&
Ĩ$¨Z9$#
w
tbqßJn=ôèt
ÇÌÉÈ
Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama
Allah tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah
itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah itulah agama yang lurus, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui.”[6]
IV.
ANALISA
Dari pembahasan dapat dianalisis bahwa begitu pentingnya psikologi
islam dalam mempelajari kehidupan manusia, baik itu yang berhubungan terhadap
sesama manusia atau sosial maupun terhadap perilaku keberagamaan. Begitu banyak
pembelajaran dan wawasan masalah ilmu psikologi islam salah satunya tentang
gejala-gejala psikologi dalam keberagamaan.
Psikologi pada
umumnya mempelajari tentang gejala-gejala manusia yang sering berkaitan dengan
kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dan berdasarkan pandangan psikologi agama
bahwasanya perilaku beragama dipengaruhi faktor endogen atau faktor pembawaan
(dasar) maupun faktor eksogen atau faktor keadaan atau lingkungan. Hal ini
dapat menghantarkan seseorang memahami agama secara keseluruhan dengan
penyempurnaan atau pembuktian yang berwujud perilaku beragama.
V.
KESIMPULAN
Manusia seutuhnya adalah sebagai satu kesatuan tubuh, roh dan jiwa
yang saling memengaruhi satu dengan yang lainnya. Perkembangan gejala psikologi
dalam keberagamaan di pengaruhi oleh banyak hal, diantaranya tingkat kecerdasan
dan rentan usia, kedua hal tersebut sangatlah tinggi perannya dalam respon
ajaran-ajaran agama yang kemudian di aplikasikan dalam kehidupan manusia
sebagai wujud untuk meningkatkan keimanan dengan jalan interaksi dengan tuhan.
Gejala Psikologi keberagamaan meliputi empat macam yaitu Gejala
pengenalan (Kognisi), Gejala Perasaan (Afeksi), Gejala kemauan (Konasi) dan
Gejala campuran (Psikomotorik).
Dalam ajaran agama Islam, bahwa adanya kebutuhan terhadap agama
disebabkan manusia selaku makhluk Tuhan dibekali dengan berbagai potensi
(fitrah) yang dibawa sejak lahir. Salah satu fitrah tersebut adalah
kecenderungan terhadap agama.
VI.
SARAN
Demikianlah makalah yang kami sajikan, semoga makalah ini
bermanfaat bagi kita semua, khususnya bagi para pembaca. Apabila dalam
pembuatan makalah ini terdapat kekeliruan, kami mohon maaf yang sebenarnya.
DAFTAR PUSTAKA
Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, Andi Offset,
Yogjakarta, 1981
Jalaludin, Psikologi Agama, PT Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 2007
Zunaidi, Filsafat Pendidikan Islam, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta; 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar