STUKTUR
KESADARAN BERIMAN
Disusun
Guna Memenuhi Tugas
Mata
Kuliah : Psikologi
Islam
REVISI
MAKALAH
DISUSUN OLEH:
1.
Shofiyatul Himami (1310110044)
2.
Amanah Fitria (1310110053)
3.
Ulin Ni’mah (1310110060)
4.
Riyadlul Jannah (1310110075)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
(PAI)
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
TAHUN 2014
A. PENDAHULUAN
Keyakinan, sikap perilaku manusia adalah hasil dari perjalanan
proses yang panjang yang diawali dari tumbuhnya sebuah pengertian akan dunia
yang ada diluar dirinya atau dalam istilah psikologi adalah kesadaran.Mengambil
fenomena yang terjadi dan sangat dekat dengan kita. Tentang kasus-kasus yang
meliputi akan segala hal, diantaranya kasus rumah tangga, penganiayaan, dan
pemerkosaan. Dalam bidang sosial banyaknya kehamilan diluar nikah dan
sebagainya.banyak yang menyebut bahwa orang yang melakukan hal tersebut diatas
adalah yang lemah iman, juga ada yang menyebut bahwa orang tersebut orang yang
tidak sadar, ada juga yang menyebut mereka sebagai orang yang tidak menjalankan
nilai-nilai agama dengan baik atau yang seharusnya. Sebagai wujud dari bentuk
suatu keberagamaan, yang sangat berkaitan erat dengan kesadaran iman.dan titik
tekan suatu agama yang utama adalah aqidah sebagai pembangunan suatu
kepercayaan atau keimanan.
B. PERMASALAHAN
1. Bagaimana struktur kesadaran beriman?
2. Bagaimana karakter umat Islam setelah terealisasikannya kesadaran beriman?
3. Bagaimana aktualisasi manusia setelah timbulnya kesadaran beriman?
1. Bagaimana struktur kesadaran beriman?
2. Bagaimana karakter umat Islam setelah terealisasikannya kesadaran beriman?
3. Bagaimana aktualisasi manusia setelah timbulnya kesadaran beriman?
C.
PEMBAHASAN
1.
TERCIPTANYA
STRUKTUR KESADARAN BERIMAN
Menurut KBBI kesadaran secara bahasa berarti keinsyafan, keadaan
mengerti dan hal yang dirasakan atau dialami oleh seseorang . sedangkan menurut istilah sebagaimana
pendapat Joachim Wach yang dikutip oleh muslim A. Kadir adalah gejala kewajiban
yang ditandai oleh tumbuhnya pengertian sebagai produk interaksi kemampuan
manusia .
Secara bahasa kata iman berasal dari bahasa arab, yang merupakan
bentuk mashdar dari amana,yu’minu,imanan,yang memiliki beberapa arti
diantaranya percaya ,aman, melindungi, setia,atau menempatkan sesuatu pada
tempat yang aman. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa yang dimaksud dengan
iman adalah engkau percaya pada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya,
para RasulNya, hari Kebangkitan, dan Qadla’(peraturan) dan Qadar(kuasa)-Nya(HR
Bukhari). Keenam kepercayaan sebagaimana disebutkan dalan hadits itu biasa
disebut dengan rukun Iman, dan orang-orang yang mengingkarinya disebut kafir.
Hal ini sebagaiman firman allah dalam alQuran Surat Al-Fath:13
`tBuróO©9.`ÏB÷sã«!$$Î/¾Ï&Î!qßuur!$¯RÎ*sù$tRôtFôãr&tûïÌÏÿ»s3ù=Ï9#ZÏèyÇÊÌÈ
Artinya : “Dan
barang siapa yang tidak beriman kepada Allah dan Rasulnya maka sesunguhnya kami
telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir yaitu neraka jahannam yang
menyala-nyala”.
Iman merupakan kunci pokok dalam membentuk keislaman seseorang.
Antara iman dan islam merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, iman
sebagai aqidah dan islam sebagai syariat.iman tidak ada artinya tanpa disertai
amal shaleh dan amalshaleh akan sia-sia jika tidak dilandasi dengan iman. Atas
dasar itulah para ulama biasa mendefinisikan iman sebagai “ Ma’rifatun bil Qalbi wa qaulun bil Lisani
wa ‘amalun bil arkani.” (makrifat atau keyakinan dalam hati, diucapkan dengan
lisan dan dikerjakan dengan anggota badan).Oleh karena itu, iman itu harus
berdiri diatas keyakinan yang kuat dan
tidak lagi dimasuki oleh keraguan.[1]
Manusia diciptakan oleh Allah diatas fitrahnya. Fitrah yang menjadi
acuan penciptaan manusia itu adalah berasal dari fitrah milik Allah. Seperti
yang dijelaskan dalam surat Ar-Rum/30:30
....ﻓﻄﺮﺖﷲﺍﻠﺘﻰﻓﻄﺮﺍﻠﻧﺎﺲﻋﻠﻴﻬﺎ.....
Artinya: “....Fitrah Allah dimana Allah menciptakan manusia
berdasarkan fitrah-Nya itu....”
Karena fitrah yang ada pada manusia itu berasal dari milik Allah,
maka seharusnya fitrah itu dipandang dari dua
sisi pula. Yang pertama, fitrah dalam hubungannya dengan Allah, yaitu
fitrah itu sendiiri adalah milik Alah. Kedua, fitrah dalam hubungannya dengan
manusia, bahwa fitrah merupakan suatu landasan penciptaan manusia yang kemudian
menjadi milik manusia. Dengan kata lain fitrah merupakan pola dasar ciptaan
manusia, dan manusia diciptakan diatas pola tersebut.[2]
Kemudian Allah menciptakan manusia disertai dengan segala
potensi-potensinya, diantaranya yaitu Allah menciptakan manusia dengan potensi
keimanannya, yakni secara fitrahnya manusia berpotensi untuk mengetahui
kebenaran dan mempunyai kecenderungan untuk mengEsakan Tuhan dan terus menerus
mencari dan mencapai ketauhidan tersebut.
Karena manusia diciptakan
Allah dengan potensi-potensi keimanan tersebut maka setiap diri manusia secara
fitriahnya telah memiliki watak
dankecenderungan untuk selalu membutuhkan Tuhan, sekalipun masih dalam
imateri (alam Ruh) nya.[3]
Sedangkan struktur kesadaran beriman dalam pandangan tauhid yaitu
mengucapkan dengan lisan, membenarkan dengan hati, dan mengimplementasikan
dalam kehidupan.
2.
KARAKTER
UMAT ISLAM SETELAH TEREALISASIKANNYA
KESADARAN BERIMAN
Agar seorang muslim diterima dan diakui keimanan serta
keislamanannya oleh Allah swt. Maka dia harusmelekatkan dengan sesungguh hati
karakteristik atau ciri-ciri khas pribadi muslim dalam kepribadiannya. Paling
tidak, ada lima karakteristik pribadi muslim sejati yang harus lekat dalam
kepribadian kita. Pertama, bertakwa kepada Allah swt.
Dengan sebenar-benarnya takwa. Hal ini diperlukan karena takwa merupakan kunci
kemudahan seseorang,Kedua, merupakan karakteristik
pribadi muslim yang sejati adalah selalu berusaha untuk masuk kedalam islam
secara kaffah, menyeluruh, atau total. Hal ini berarti bahwa muslim yang sejati
itu tidak hanya menyesuaikan diri dalam suatu aspek, tetapi seluruh aspek
kehidupannya akan terus diusahakan sesuai dengan ajaran islam. Oleh karena itu,
dalam berbagai aspek kehidupan, dia tidak akan menempuh cara-cara yang tidak
islami. Dia tidak akan memenuhi keingan-keinginan setan.Ketiga,
karakteristik muslim sejati adalah selalu dalam shibghah atau terwarnai dengan
nilai-nilai Ilahi, sehingga seorang muslim akan selalu berusaha untuk menjalani
hidup dengan ketentuan-ketentuan allah dan Rasulnya.Keempat, seorang muslim sejati
adalah istiqomah atau teguh dalam pendirian. Ia tidak mudah tergoda oleh
godaan-godaan syaitan yang mengajak kepada kemungkaran.Kelima, muslim
sejati bersikap tawazzun atau mempunyai sikap keseimbangan hidup, islam
mentransfer kesadaran bahwa implementasi dari nilai-nilai ukhrowi yang kita
kejar, selayaknya tidak menjadikan kita lupa untuk memperbaiki kualitas
kehidupan dunia, karena prestasi ibadah dunia merupakan mata rantai bagi
kehidupan akhirat, hal ini dijelaskan dalam surat Al-Qashash ayat 77 :
Æ÷tGö/$#ur!$yJÏù9t?#uäª!$#u#¤$!$#notÅzFy$#(wur[Ys?y7t7ÅÁtRÆÏB$u÷R9$#(`Å¡ômr&ur!$yJ2z`|¡ômr&ª!$#øs9Î)(wurÆ÷ö7s?y$|¡xÿø9$#ÎûÇÚöF{$#(¨bÎ)©!$#w=ÏtätûïÏÅ¡øÿßJø9$#ÇÐÐÈ
Artinya: “Dan carilah
pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat,
dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat
baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Keseimbangan hidup merupakan sesuatu yang amat penting. Manakala
seorang muslim tidak berlaku Tawazzun maka akan terjadi ketimpangan hidup yang
tidak terkendali dan berdampak pada kerusakan di muka bumi ini,baik kerusakan
lingkungan hidup maupun kerusakan moral sebagaimana yang kita saksikan bahkan
kita rasakan akibatnya selama ini.
Dalam keterangan lain dijelaskan
bahwa keimanan yang direalisasikan secara benar akan membentuk
kepribadian mu’min (syakhshsiyah al mu’min) yang membentuk enam karakter yaitu
:
1.
Karakter
Rabbani yaitu karakter yang mampu
mentransinternalkan (mengambil dan mengamalkan) sifat-sifat dan Asma’ Allah Swt
kedalam tingkah laku nyata sebata pada kemampuan manusianya. Proses pembentukan
karakter Rabbani dapat ditempuh melalui tiga tahap yaitu Ta’alluq, Takhalluq,
dan Tahaqquq. Proses Ta’alluq adalah menggantungkan kesadran diri dan fikiran
kepada Allah dengan cara berfikir dan berdzikir kepadanya. Proses Takhalluq
adalah adanya kesadran diri untuk mentransinternalisasikan sifat-sifat dan
Asma’ Allah sebatas pada kemampuan manusiawinya. Proses ini dilakukan sebab
fitrah manusia memiliki potensi Asma’ Al-Husna. Proses Tahaqquq adalah kesadran
diri akan adanya kebenaran, kemuliaan, keagungan Allah Swt sehingga tingkah
lakunya didominasi olehNya.
2.
Karakter
Malaki yaitu karakter yang mampu mentransinternalisasikan sifat-sifat malikat
yang agung dan mulia. Diantaranya yaitu menjalankan perintah Allah,tidak
bermaksiat kepadaNya, bertasbih kepadaNya, menyampaikan informasi kepada yang
lain dan membagi-bagi rizki untuk kesejahteraan bersama, serta memelihara kebun
(jannah) yang indah.
3.
Karakter
Qur’ani yaitu karakter mampu mentransinternalisasikan nilai-nilai AL-Qur’an
dalam tingkah laku nyata diantaranya yaitu membaca, memahami, dan mengamalkan
ajaran yang terkandung didalam Al-Qur’an dan sunnah sebab ia memberikan
petunjuk, rahmah, berita gembira bagi orang muslim yang bertakwa, memberikan
wawasan yang totalitas untuk semua aspek kehidupan.
4.
Karakter
Rasuli yaitu karakter yang mampu mentransinternalisasikan sifat sifat rasul
yang mulia Diantaranya yaitu jujur, dapat dipercaya, menyampaikann informasi
atau wahyu, dan cerdas.
5.
Karakter
yang berwawasan dan mementingkan masa depan (hari akhir). Karakter ini
menghendaki adanya karakter yang mementingkan jangk panjang daripada jangka
pendek atau wawasan masa depan daripada masa kini, memiliki sikap tanggung
jawab melakukan sholat, zakat dan selalu bertaqwa, tingkah lakunya penuh
perhitungan, sebab nanti semuanya diperhitungkan (hisab).
6.
Karakter
Taqdiri yaitu karakter yang menghendaki adanya penyerahan dan kepatuhan pada
hukum-hukum, aturan-aturan dan sunah-sunah Allah yang pasti untuk kemaslahatan
hidupnya.[4]
3.
AKTUALISASI
MANUSIA SETELAH TIMBULNYA KESADARAN BERIMAN
Al-Qur’an menginstruksikan manusia agar iman itu diaktualisasikan
dalam bentuk ibadah dalam arti sempit yaitu arkan al-iman wa al-muslim
dan dalam arti luasnya yaitu’amal al-shalih. Ibadah secara Harfiah
diartikan dengan patuh (al-tha’ah) dan tunduk (al-khudhu’). Arti ini diambil
dari persamaan akar kata al-ibadah dan al-‘abd (hamba sahaya). Seseorang yang
berstatus hamba sahaya maka ia harus tunduk dan patuh terhadap tuannya. Manusia
adalah hamba sedang Allah adalah tuannya, maka selayaknya manusia tunduk dan
patuh terhadap hukum-hukum dan aturan-aturanNya. Ibadah dalam artian luas dapat
dipahami sebagai aktifitas baik yang berdimensi ilahiyah, baik secara vertikal
(habl min Allah) maupun horizontal (habl min al nass wa al alam). Ibadah
sebagai bentuk konkret pemenuhan amanat memancarkan pengarhnya pada seluruh
aktifitas manusia. Firman Allah yang artinya :” dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
menyembahKU. Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan aku tidak
menghendaki supaya mereka memberi aku makan” (Q.S Al-Dzariyat 56-57)
Ibadah dalam firman tersebut merupakan aktualisasi diri manusia.
Aktualisasi diri ini akan membentuk suatu jati diri dan harga diri yang benar-benar
fitri dan islami. Jati diri manusia ditentukan oleh sejauh mana ia mampu
memenuhi amanat dan kebutuhan beragama sedang harga dirinya ditentukan oleh
sejauh mana ia mampu meningkatkan kualitas keberagamaannya melalui ketaqwaan
dan keikhlasannya. Ayat tersebut juga menunjukkan bahwa ibadah merupakan
kebutuhan psikofisik manusia yaitu kebutuhan aktualisasi dan realisasi diri,
bukan kebutuhan tuhan. Hal tersebut dikarenakan Allah maha suci yang tidak
membutuhkan apapun dari perbuatan manusia, Allah juga tidak akan bertambah
kekuasaannya dengan peribadatan hambanya dan juga tidak akan terkurangi
kekuasaannya karena pembangkangan manusia.[5]
Sedangakan amal berarti perbuatan yang mencakup perbuatn lahir yang
dilakukan oleh anggota tubuh, dan perbuatan batin yang dilakukan oleh hati dan
fikiran. Sholeh dalam bahasa arab memiliki beberapa arti, diantaranya adalah
baik dan sesuai. Jadi Amal Sholeh artinya adalah perbuatan yang baik (seperti
yang selama ini dipahami), tetapi tidak hanya sekedar baik, namun juga sesuai.
D. ANALISA
Dari pembahasan diatas menurut kelompok kami struktur kesadaran
beriman merupakan sebagai proses dimana manusia mulai menyadari dan merasakan
bahwa didalam diri manusia terdapat potensi keimanan. Dengan potensi itu,
manusia yang telah sadar akan mengaktualisasikan dirinya untuk beribadah dan
beramal shalih.
Seperti halnya yang terjadi antara
masyarakat yang tinggal di kota dan di pedesaan, mereka memiliki kadar
kesadaran beriman yang berbeda. Contoh saja dalam hal berkurban, masyarakat
kota cenderung memiliki tingkat kesadaran yang lebih tinggi, walaupun dalam hal
ibadah wajib seperti melakukan gerakan sholat mereka cenderung belum sempurna
dibandingkan masyarakat desa. Sebaliknya masyarakat desa yang dalam
melaksanakan gerakan-gerakan sholat lebih mahir namun kesadaran dalam
menjalankan ibadah kurban mereka masih sangat rendah, mereka lebih senang
menyimpan uang tersebut untuk kebutuhan yang lain dibandingkan untuk berkurban.
E. KESIMPULAN
1.
Menurut
KBBI kesadaran secara bahasa berarti keinsyafan, keadaan mengerti dan hal yang
dirasakan atau dialami oleh seseorang . sedangkan menurut istilah sebagaimana
pendapat Joachim Wach yang dikutip oleh muslim A. Kadir adalah gejala kewajiban
yang ditandai oleh tumbuhnya pengertian sebagai produk interaksi kemampuan
manusia. Sedangkan struktur kesadaran beriman dalam pandangan tauhid yaitu
mengucapkan dengan lisan, membenarkan dengan hati, dan mengimplementasikan
dalam kehidupan.
2.
Keimanan
yang direalisasikan secara benar akan membentuk kepribadian mu’min
(syakhshsiyah al mu’min) yang membentuk enam karakter yaitu : karakter Rabbani,
karakter Malaki, karakter Rasuli,karakter Qur’ani, karakter yang berwawasan dan
mementingkan masa depan (hari akhir) dan karakter Taqdiri.
3.
Al-Qur’an
menginstruksikan manusia agar iman itu diaktualisasikan dalam bentuk ibadah
dalam arti sempit yaitu arkan al-iman wa al-muslim dan dalam arti
luasnya yaitu’amal al-shalih. Ibadah secara Harfiah diartikan dengan
patuh (al-tha’ah) dan tunduk (al-khudhu’). Arti ini diambil dari persamaan akar
kata al-ibadah dan al-‘abd (hamba sahaya).
F.
SARAN
Demikian
makalah yang kami sampaikan mengenai “struktur kesadaran beriman”. Tentunya
masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Karena kami sadar bahwa makalah ini
mempunyai kelebihan dan kekurangan, maka dari itu kami harap maklum jika dalam
makalah ini terdapat kelebihan dan kekurangan. Semoga dapat bermanfaat bagi kita
semua.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdul
Mujib dan Jusuf Mudzakir, NUANSA-NUANSA PSIKOLOGI ISLAM, PT RajaGrafindo Persada,Jakarta:2001
Amin
Syukur,Tasawuf konstektual,Pustaka Pelajar,Yogyakarta:2001
Baharuddin, Aktualisasi Psikologi Islami,
Pustaka Pelajar, Yogyakarta:2005
[1]Amin Syukur,Tasawuf konstektual,Pustaka
Pelajar,Yogyakarta:2001,hal 107-109
[2] Baharuddin, AktualisasiPsikologi Islami, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta:2005,hal 20-21
[3] Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir, NUANSA-NUANSA PSIKOLOGI ISLAM,
PT RajaGrafindo Persada,Jakarta:2001 hal 80-82
[5] Ibid, hal 253-254
